self reminder

Kegagalan Melahirkan Keikhlasan

Memiliki buah hati adalah dambaan orang tua.  Aku pun begitu. Saat itu aku sudah memiliki satu anak. Sejak anak wedok lahir, kami sangat menjaga kondisi agar tidak terjadi kehamilan lagi dalam waktu dekat.  Aku mengikuti KB metode suntik kemudian berganti menjadi pil. 

Metode suntik dan pil KB mengganggu kondisi hormon. Kesibukan mengurus bayi membuat aku acuh terhadap kondisiku sendiri. Aku tak peduli dengan siklus haid yang berantakan, bahkan hingga satu tahun tidak haid. Setelah sadar, aku pun menghentikan pil KB.

Ketika anak wedok berusia tiga tahun, mulai merasa kesepian. Begitu pula denganku.  Anak wedok sering minta main bersama di rumah teman atau menginap ketika akhir pekan. Saat itu kami tingat di luar Indonesia. Bermain bersama atau anak menginap di akhir pekan adalah hal yang biasa dilakukan diantara teman dari Indonesia.

Aku dan suami sepakat untuk memiliki anak lagi. Kami merasa sudah siap untuk menambah anak dari segi ekonomi, fisik dan psikis. Sejak melahirkan anak wedok, aku memiliki siklus menstruasi yang kacau. Sebulan, dua bulan bahkan sampai tiga bulan siklus haid. Hal itu tidak membuatku risau sampai dengan adanya keinginan untuk hamil lagi.

Siklus menstruasi yang berantakan, membuat kami kesusahan menentukan masa subur. Langkah ikhtiar aku lakukan dengan konsultasi ke Obgyn. Gangguan hormon diagnosa dokter. Mulailah terapi hormon dengan konsums obat dokter. Fungsi terapi ini untuk membantu pelepasan sel telur secara teratur sehingga bisa menentukan masa ovulasi. 

Terapi obat ini aku lakukan kurang lebih lima bulan. Setelah siklus haid normal, dokter kandungan menyarankan untuk menggunakan alas tes masa subur.  Ketika masuk masa subur, kami harus melakukan pembuahan alami. Tak hanya obat dokter, aku dan suami juga lebih rajin olah raga dan mengkonsumsi makanan sehat seperti madu. Usaha kami berhasil, sekitar akhir tahun 2009 aku hamil. 

Bahagia ketika mengetahui hasil test pack ada dua garis pink. Cek urine ke dokter kandungan dan hasilnya pun sama, positif.  Kontrol berikutnya, aku melakukan USG. Pada layar terlihat penebalan dinding rahim dan setitik janin. Mual dan muntah mulai kurasakan.

Sebulan kemudian USG ke Obgyn lagi. Berkali-kali Dokter menggeser sensor USG diatas perutku. Mencoba mendengarkan detak jantung janin. Nihil. Tak ada detak jantung. Janin pun tak ada. Shock! Wajahku kebingungan dan panik. Mataku memandang wajah suami, minta aliran kekuatan. 

Blighted Ovum, itulah kondisi yang aku alami menurut Dokter. 

Diagnosa : Blighted Ovum

Blighted Ovum adalah kondisi kehamilan kosong atau tidak ada embrio. Gejala kehamilan seperti mual, hasil tes positif, muntah, dan payudara membesar dirasakan pada kehamilan blighted ovum. Hanya saja tidak ada embrio dalam kantong kehamilan. 

Aku tidak mengalami pendarahan spontan. Dokter memberikan dua pilihan. Menunggu sembari diberikan obat yang merangsang pendarahan, dan jika tidak terjadi pendarahan harus di kuret. Opsi kedua adalah langsung dilakukan tindakan kuret untuk membersihkan jaringan yang ada di rahim. Kami memutuskan untuk melakukan kuret dua hari kemudian. 

Pertahanan Diri : Menyalahkan!

Kabar yang mendadak dan mengejutkan. Aku merasa gagal untuk memiliki anak lagi. Setelah kuret, seperti ada yang ‘hilang’. Menyalahkan suami yang langsung mengambil keputusan kuret tanpa melalui konsul ke dokter lain. Mempertanyakan kredibilitas Obgyn. Pikiran negatif berkecamuk.

Nasihat dan doa mengalir dari para sahabat. Aku mencoba untuk menelaah cerita dan saran. Menata hati kembali. Aku membaca tentang buku Quantum Ikhlas. Kondisi bawar sadar manusia, susah untuk menerima suatu keadaan seperti kegagalan. Padahal dalam diri manusia terdapat potensi untuk memperbaiki diri. Ikhlaskan diri., yaitu menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah agar kehidupan di dunia dan akhirat lancar.

Sabar, memaafkan, menerima keadaan, bersyukur, dan fokus pada tujuan adalah sikap yang menjadi bagian menuju ikhlas. Penerimaan diri menjadi kunci menuju ikhlas. Setelah ikhlas, aku menjalani hari lebih nyaman. Berpikir positif, melakukan hal lebih produktif. 

Berdoa kepada Sang Khalik menjadi landasan.  Allah akan mencoba doa-doa manusia yang ikhlas, tulus berserah.  “Aku bersyukur diberikan rezeki berlimpah, harta, anak, kesehatan dan kebagiaan. Jika KAU izinkan, tambahkan rezekiku.”

Hikmah Ikhlas

Berusaha, menjaga pola makan, berdoa dan selalu positif yakin akan ketentuan Allah. Waktu itu saat Haji tahun 2010. Teman menitipkan anak-anaknya selama mereka melaksanakan ibadah Haji. Rumah dimeriahkan oleh tambahan dua anak.  Anak wedok punya teman ngobrol dan main. Suasana rumah makin ramai.

Mual dan badan nggak enak. Ingin rebahan. Beberapa hari merasa kurang enak badan. Iseng pakai test pack yang tersisa. Dua garis. Nggak percaya dan tidak mau terlalu berlebihan karena pengalaman blighted ovum sebelumnya.

Kontrol ke Obgyn ternyata hamil, Alhamdulillah. Kami memutuskan untuk pindah Rumah Sakit untuk melakukan kontrol kehamilan. Pemilihan Obgyn lebih selektif. Kami memutuskan untuk kontrol ke Obgyn yang direkomendasikan teman-teman.  Alhamdulillah, selama kehamilan hingga melahirkan lancar. Lahirlah anak lanang yang tumbuh sehat. 

Kegagalan dalam kehamilan, membuat aku down. Dikelilingi oleh orang-orang yang tepat, membuat aku bisa belajar dari sebuah kegagalan. Sedih dan kecewa setelah gagal, hal yang wajar. Penyesalan yang berkepanjangan akan menimbulkan efek negatif untuk diri. Ikhlas membawaku pada perubahan sikap dalam hidup. 

Belajar – bangkit – berpikir positif – jalani hidup. Allah itu Maha Baik.

Comments

January 15, 2021 at 12:19

Proses penerimaan diri yang cukup panjang karena merasa gagal. Sangat menarik dan hikmahnya yang cukup dimengerti.



January 18, 2021 at 16:01

Alhamdulillah, kuncinya memang harus sabar dan ikhlas. Usaha tidak akan mengkhianati hasil



January 19, 2021 at 05:43

alhamdulillah ya mbak wid ada hikmahnya. Blight ovum ini kalau nggak dicek nggak tahu yaa. Anak wedokku juga lagi minta-minta punya adik lagi nih, namun keadaan kami belum memungkinkan..



January 19, 2021 at 19:53

Mba aku juga habis mengalami ini beberapa waktu lalu. Jujur sedih banget, padahal anak sudah pengen punya adik baru. Bismillah kuat selalu ya



    Wida Ariesi
    February 19, 2021 at 11:37

    TehLis, I feel you.. peluk dari jauh yah. Semoga tidak menjadikan sedih berlarut dan segera mendapatkan berkah baru Aamiin



Leave a Reply