self reminder

Album Kisah 2020

Melewati satu tahun dalam hidup adalah berkah yang indah. Berbagai kisah dan peristiwa yang memperkaya pengalaman hidup. Pada awal 2020, aku tak banyak berharap. Hanya ingin menjalani satu tahun dengan lebih banyak bersyukur, lebih hidup sehat, menjadi istri dan ibu yang lebih shalihah, dan insan yang lebih mendekatkan diri kepadaNya. Tak ada target khusus yang ingin kukejar.

Menikmati hari, itulah harapanku di awal tahun 2020. Anak-anak yang mulai mandiri sangat membantu tugas keseharianku. Banyak ibadah, amal, menjalin silaturahmi dan melakukan hal yang membuat bahagia. Allah Maha Pengasih-Maha Pemurah-Maha Penyayang, aku sudah diberikan hidup cukup lama. Menikmati pinjaman tubuh dan mengambil oksigen di Bumi ini. Nikmat mana yang bisa aku dustakan?

Januari 2020

Bulan pertama yang membuat semangat membara untuk melakukan berbagai rencana, termasuk liburan. Rencana pertama adalah silaturahim ke Kuala Lumpur, mengunjungi rumah salah satu anggota arisan muslimah. Akhir Februari menjadi pilihan setelah bisa menyesuaikan jadwal kerja dan cuti teman, tiket pun dibeli. 

Rencana liburan kedua adalah bersama keluarga. Berawal dari anak lanang yang protes, “Aku belum pernah liburan ke luar negeri yang jauh. Pernahnya pas bayi. Aku nggak ngerasain.” Keinginan untuk bersikap adil dalam memberikan pengalaman hidup ke anak, akhirnya kami memutuskan untuk liburan keluarga ke Jepang pada bulan Juni. Kado juga kepada anak lanang yang berulang tahun. Tiket pun dibeli. 

Arisan di kompleks rumah sudah berakhir dan kami sepakat untuk pergi bersama setiap periode arisan berakhir. Periode ini kami memutuskan untuk pergi bersama ke Yogya pada awal Maret. Mulailah kami membentuk pantia kecil untuk mengorganisasi perjalanan, termasuk pembelian tiket pesawat ke Yogya.

Februari

Berita Covid 19 di Wuhan China dan merebak ke beberapa negara termasuk Malaysia, membuat kami galau. Ada beberapa teman yang membatalkan ikut. Aku pun akhirnya membatalkan rencana silaturahmi karena sudah ada warga asing yang terkena Covid di Malaysia. Aku tak mau ambil risiko karena bandara adalah tempat bertemunya berbagai manusia dari berbagai negara. Risiko untuk tertular virus sangat tinggi. 

Maret

Penutupan periode arisan kompleks ke Yogya. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya pergi dengan ibu-ibu tanpa anak? Aura ibu lenyap seketika dan menjelma menjadi diri sendiri. Jumat sampai Minggu kami habiskan waktu untuk relaks sejenak, melupakan tugas keseharian sebagai istri dan ibu. 

Pergi bersama membuat kita makin mengenal pribadi orang secara lebih dekat. Bagaimana cara orang beradaptasi dan toleransi. Itulah hal lain yang aku suka ketika melakukan perjalanan dengan orang lain. Sedekat apapun dengan orang, akan tampak sifat aslinya ketika travelling.

Presiden Jokowi mengumumkan secara resmi tentang penderita Covid pertama di Indonesia pada awal Maret 2020. Sejak saat itu, media dipenuhi dengan liputan tentang Covid.

Sejak saat itu, anak-anak mulai sekolah daring dan suami juga bekerja secara online.

April 

Ada yang hilang ketika menjalani Ramadan tahun ini. Berjamaah tarawih yang biasanya dilakukan di masjid, harus kami lakukan di rumah saja. Suami mendadak jadi imam setiap hari. Ada rasa senang karena kami berempat bisa melakukan tarawih berjamaah. Di sisi lain ada yang terasa kurang yaitu silaturahmi dengan jamaah lain yang ada di kompleks. 

Acara buka puasa bersama teman dan saudara pun tak ada. Setiap hari kami berempat menghabiskan waktu bersama dari makan sahur hingga mata terpejam. Di dalam rumah, bersama. Tadarus Ramadan yang biasanya setiap pagi dilakukan di masjid, aku lakukan melalui online. Alhamdulillah target khataman di Ramadan tercapai. 

Mei 

Menjelang akhir Ramadan, kegiatan baksos Masjid kompleks rumah tetap kami laksanakan. Mempertimbangkan kondisi yang sulit di masa pandemi dan tetap menjaga protokol kesehatan, pembagian paket sembako lebaran dilakukan secara bergilir. Aku yang bertugas sebagai koordinator Sie Sosial Masjid, bergerilya bersama teman-teman di setiap cluster kompleks. Membagikan paket sembako kepada pekerja di kompleks kami yang berjumlah 700 orang.

Tantangan tersendiri ketika mengumpulkan donasi di masa pandemi. Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri di masa pandemi. Alhamdulillah dengan usaha tim sosial, kami bisa memenuhi kuota paket untuk semua pekerja di lingkungan kompleks. Tenaga keamanan, kebersihan, PAM, taman, kolam renang, angkut sampah, petugas masjid, maintenance dan petugas lain yang membantu di lingkungan kompleks mendapatkan paket sembako.

Lebaran tanpa mudik. Merayakan lebaran di rumah, Salat Ied di rumah dan makan opor sekeluarga saja. Tradisi mudik dengan menempuh perjalanan darat naik mobil dari Serpong menuju Jawa Timur terpaksa ditiadakan. Acara kulineran dan gerai canda sepanjang perjalanan terpaksa menjadi impian dahulu. Lebaran tanpa lontong opor mertua, es buah aroma kayu manis, dan berbagai hidangan khas daerah tak kami rasakan.

Acara halal bihalal keluarga di setiap lebaran, diganti secara online. Kehebohan, gelak tawa dan syahdunya silaturahim terasa berbeda. Perjumpaan secara online tidak dapat menggantikan suasana lebaran yang nyata.

Juni-Juli

Liburan keluarga ke Jepang pun batal karena pandemi. Anak-anak menghabiskan liburan dengan di rumah saja. Menonton film dari Netflix, Youtube, Viu, dan games online. Sesekali kami juga bermain kartu bersama. Liburan kami isi dengan berjemur pagi, nonton, dan bermain bersama setelah makan malam.

Bosan dengan rutinitas yang sama setiap hari di rumah, aku mencoba melakukan hal baru. Mencoba mengembalikan mood baking. Setelah lebaran, justru aku menerima pesanan hampers cinnamon rolls dari teman-teman. Anak-anak pun turut membantu untuk mengisi waktu. 

Tampilan blog yang mulai kusam karena sudah tak pernah tersentuh, akhirnya mulai glowing. Aku mengikuti pelatihan blog yang di mentori oleh Teh Ani Berta. MasyaAllah, ilmunya keren. Sejak mengikuti pelatihan, aku mulai rajin menulis di blog dan mengikuti pelatihan menulis lagi. Aku kembali lagi melakukan hobi yang terbengkalai.

November

Sejak mulai rajin menulis lagi, aku mengikuti dua audisi buku antologi. Satu bertema tentang hidup single dan satu lagi tentang cerita lucu keseharian. Alhamdulillah naskahku lolos untuk keduanya. Aku pernah memiliki dua buku antologi sebelumnya, sekitar lima tahun lalu. Setelah itu, aku ingin memiliki buku yang menuliskan namaku sebagai pengarangnya. Cita-cita itu kandas begitu saja diterpa angin. 

Antologi Single Strong & Sparkling berkisah tentang kehidupan wanita yang telah berusia 40 tahun dan belum menikah. Kehidupan wanita single kerap kali menimbulkan persepsi kurang mengenakkan di masyarakat. Ternyata bagi para wanita yang telah berusia matang dan belum menikah, kehidupan mereka penuh warna. Mereka tetap mencari jodohnya dan melakukan hal-hal menarik dalam hidup.

Antologi kedua tentang kisah-kisah lucu keseharian. Aku bercerita tentang kisah anak lanang yang belajar membuat kue. Tanpa kita sadari, dalam keseharian banyak cerita menarik yang bisa dituliskan. Kisah tentang anak-anak yang tak pernah ada habisnya. kekocakan anak-anak dalam menghadapi dunia adalah hal yang menarik. Tak takut berbuat salah dan berani belajar untuk memperbaiki.

Antologi Kisah Lucu

Penulisan kisah lucu merupakan hal baru untukku. Waktu itu ada kelas menulis cerita lucu oleh Mbak Dedew. materinya menarik dan cara mb Dedew mengajar simple, praktis dan sesuai tujuan. menuliskan kisah dengan punch lucu tidak lebai suatu hal yang baru. Stag sesaat memikirkan punch lucu yang normal, dan ahaaaa kisah anak lanang pas untuk dituliskan.

Mood menulis yang perlahan bangkit, membuahkan hasil dua buah antologi dan blog yang mulai hidup dengan goresan ceritaku. Pencapaian yang aku syukuri karena aku tidak memiliki harapan tinggi untuk tahun 2020.

Desember

Akhir tahun yang gloomy. Berita duka cita meluluh lantakkan hati. Beberapa lingkaran teman mulai terkena Covid. Ada yang butuh waktu cukup lama untuk sehat kembali. Ada yang harus menyerah dengan usia karena penyakit yang memang sudah dirasakan beberapa saat.

Di penghujung tahun, hati makin lantak dengan berita mengejutkan tentang kepergian tetangga yang sejak pandemi jarang bertemu. Sebelumnya kami sering berjumpa ketika yoga, pengajian dan kegiatan masjid. Sejak pandemi, komunikasi hanya melalui media sosial. perjuangan rahimullah selama tiga minggu berakhir. Allah mengambil kembali pinjamannya di dunia. Pagi yang berderai untukku. 

Menutup tahun dengan hati yang tersayat. Mencoba untuk terus merefleksi diri. Apakah diri ini sudah pantas dan memiliki cukup bekal ketika Sang Khalik memanggil? Mengingat masih banyak noda yang belum terhapuskan. Masih banyak catatan pena kebajikan yang berlum tergoreskan.

Tahun 2020 sebagai tahun refleksi diri. Berbagai peristiwa suka-duka, pahit-manis, adalah sebuah rangkaian perjalanan yang memberikan pelajaran untuk memperbaiki diri. Tahun yang berlalu mengingatkan bahwa semua ini adalah titipan. Pasangan, anak, keluarga,  harta, dan usia adalah titipan yang bisa diambil setiap saat. Bekal amal dan ibadah menjadi senjata ketika DIA mengambil hembusan napas di dunia. 

Harapanku untuk menjalani tahun 2020 dengan mengalir ternyata berhasil. Aliran membawaku kembali ke hobi menulis dan baking. Aku tidak ingin terlalu berjuang mencapai sesuatu di tahun 2020, aku hanya ingin mengalir. Itu terjadi, bukan tahun perjuangan tetapi tahun untuk bersabar dan ikhlas.

S’lalu penuh misteri kehidupan ini…. s’lalu banyak emosi coba menghalangi…namun detik takkan menanti…entah apa yang kan kuhadapi…semua kulalui…entah apa yang kan kuhadapi…semua kunikmati (Lagu Hari Ini – GAC)

Leave a Reply

Tiba Waktuku

January 7, 2021