Parenting

Pahami Anak dengan Cara Kolaborasi

Model pola asuh ditentukan oleh kesepakatan kedua orang tua, yaitu Ayah dan Ibu. Kami memiliki kesepakatan untuk menjadi orang tua yang bisa berkolaborasi dengan anak. Peran kami bukan hanya sebagai Ayah dan Ibu, tetapi kami juga bisa menjadi coach, om/tante, saudara, dan teman. 

Mengapa Kolaborasi dengan Anak?

Memiliki pengalaman menjadi seorang anak dengan tipe pengasuhan otoriter membuat kami lebih berhati-hati dalam menerapkan pola asuh kepada anak-anak. Kami ingin memperbaiki pengasuhan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan pada anak-anak. Pola assua otoriter meninggalkan rekam jejak yang kurang nyaman. Orang tua yang cenderung bertindak seperti ‘bos’, berteriak dan memerintah tanpa memperhatikan harapan anak.

Tipe Collaborative Parenting

Mengutamakan komunikasi seperti negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusi adalah prinsip dasar dari collaborative parenting. Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak didapatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan dengan melewati proses komunikasi.

Sistem hukuman bukan alternatif dalam parenting masa kini. Dulu, kalau anak melakukan kesalahan seperti terlambat pulang, orang tua akan memberikan hukuman. Jera? Tentu tidak. Justru sistem hukuman itu sebagai tantangan untuk dilewati dengan berbagai macam tipu daya seperti berbohong kenapa terlambat pulang.

Pemberian hukuman fisik jarang atau bahkan tidak dilakukan pada jenis collaborative parenting. Hukuman fisik akan meninggalkan bekas luka, fisik atau psikis. Anak akan terus mengingat sakitnya hukuman itu, tapi terkadang lupa akan sebab diberikan hukuman. Anak tidak belajar mencari solusi, timbul rasa ketakutan dan tidak jujur kepada orang tua.

Orang tua yang berkolaborasi dengan anak, berusaha agar anak memiliki kesadaran sendiri tentang tindakan dan konsekuensi yang terjadi. Orang tua tetap menjadi sosok yang dihormati dan sebagai motivator agar anak bisa memecahkan masalahnya sendiri tanpa memberikan hukuman.

Cara Berkolaborasi dengan Anak

Perjalanan menjadi collaborative parenting ini tidaklah mudah. Mengubah dan memperbaiki perilaku membutuhkan usaha dan pengorbanan yang luar biasa. Berteriak, marah, lalu hukuman fisik adalah bentuk perilaku luapan emosi yang harus aku kelola.

Aku terus belajar dan berproses. Kolaborasi dengan anak terus kami lakukan dengan cara mengidentifikasi,  menemukan hal yang membantu anak, tidak mengontrol, dan tidak memberikan hukuman. 

Daripada memaksakan kehendak, kita bisa memberikan alternatif. Daripada memberikan hukuman, kita bisa negosiasi dan kompromi. Daripada dominan, kita bisa mencari opini anak dan memperlihatkan bahwa pendapat mereka itu penting. 

Lelah? Pasti! Tapi kembali pada tujuan awal bahwa kami ingin anak-anak merasa berharga, memiliki keinginan/pendapat sendiri dan mampu bekerjasama dengan memperhatikan hak orang lain.

Latihan Kelola Emosi 

  1. Tombol Pause

Ketika emosi sudah mulai menanjak, diam sejenak. Ambil napas dalam dan hembuskan. Hal ini membantu untuk meredakan emosi. Lalu cerna perlahan dan pikirkan kata-kata yang akan digunakan untuk berkomunikasi dengan anak.

2. Prioritas

Pikirkan apa tujuan akhirnya. Apakah dengan terlibat emosi akan memberikan efek yang lebih baik kepada anak dan diri sendiri? Mendengarkan dan memposisikan diri di pihak anak, mungkin akan lebih bersahabat. Anak akan lebih terbuka dan merasa dihargai.

3. Berpikir alternatif

Berbicara dan bertanya tentang pendapat anak untuk mencari solusi. Mengumpulkan berbagai alternatif kemudian melakukan tindakan solutif.

Mengatur emosi menjadi langkah awal agar dapat berkolaborasi dengan anak. Berbicara dan mendengarkan adalah kunci dari sebuah kolaborasi. Hal yang selalu aku ingat adalah bagaimana kita melakukannya lebih penting daripada menyelesaikannya.

Leave a Reply