Family

Refleksi Kondisi Keuangan Keluarga Saat Pandemi

Awal pandemi, Maret 2020, sempat terbersit “Wah, mesti memperketat keuangan nih supaya bisa survive di masa pandemi.”

Praktiknya justu di awal pandemi agak kedodoran keuangan keluarga. Pembelian yang tidak direncanakan untuk pencegahan Covid-19 seperti desinfektan, sanitizer, vitamin, suplemen, masker, dan sarung tangan yang saat itu mendadak langka dan harganya pun melonjak. Kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan dengan anak-anak dan suami yang ada di rumah.

“Lapar nih, Momi!”

“Kita makan apa?”

Dua perkataan itu sering terdengar seperti rekaman suara yang diulang. Baru mulai belajar sebentar anak lanang sudah buka tutup kulkas, mencari susu. Snack seperti cereal, roti, cokelat, yoghurt, kerupuk pun juga cepat habis. 

Pembelian buah dan sayur juga mengalami peningkatan. Keinginan untuk menambah imunitas tubuh menyebabkan belanja buah-buahan dalam jumlah yang lebih banyak, untuk jus buah atau infused water. Kondisi tempat tinggal yang jauh dari pasar, membuat biaya ekstra untuk ongkos kirim. 

Kebutuhan listrik di rumah juga mengalami kenaikan dengan adanya sekolah/kerja dari rumah. Kondisi sekolah dan kantor yang terbiasa memakai AC, membuat pemakaian listrik di rumah mengalai peningkatan sebesar 15%.

Ritme kedodoran keuangan berjalan sekitar dua bulan. Awalnya pasrah saja dan menghibur diri bahwa wajar saja jika ada pengeluaran ekstra saat pandemi. Lambat laun mulai refleksi diri bahwa di saat pandemi dan ekonomi sedang jatuh, sebaiknya lebih hemat. Justru kondisi pandemi, ada biaya-biaya ekstra untuk ditabung. 

Review Keuangan Keluarga Saat Pandemi

  • Cukupkah dana darurat? Referensi dari beberapa praktisi keuangan, dana darurat keuangan keluarga  yang aman adalah 6-12 x pengeluran bulanan. 
  • Pengeluaran euforia saat pandemı terjadi, harus dihentikan. Jika sudah terpenuhi kebutuhan untuk pandemi, tidak perlu menimbun desinfektan, sanitizer, dan masker berlebihan. Tidak perlu tertarik dengang berbagai motif dan model masker. 
  • Jajan anak kembali kepada kondisi sebelum pandemi. Mengurangi pembelian jajanan micin, bersoda, dan manis, seperti masa sebelum pandemi. Lebih banyak makanan bergizi seperti buah dan sayur.
  • Mengatur pola makan. Keberadaan semua anggota keluarga di rumah membuat ritme makan sedikit berubah yaitu sering nyemil dan makanan makin bertambah porsi. Mengembalikan porsi makan, sehingga badan tetap fit dan seimbang.
  • Pos pengeluaran yang mengalami penurunan seperti uang sekolah, transport, jajan sekolah, dana hiburan akhir pekan disimpan sebagai tabungan. 
  • Menghentikan investasi untuk sementara karena kondisi ekonomi dunia yang mengalami perubahan. Kami mengutamakan uang tunai yang mudah untuk diakses. 
  • Menahan nafsu belanja online dan penggunaaan kartu kredit. Tips belanja online dariku adalah pilih barang ke dalam kantong belanja tapi tidak dibayar dahulu. Tunggu hingga 1-2 hari, apakah barang di kantong belanja perlu dibeli.

Tips Atur keuangan Keluarga saat Pandemi

  • Lebih berhati-hati terhadap pengeluaran kecil. Pengeluaran kecil seperti jajanan anak terkadang dianggap remeh karena nominalnya yang tidak seberapa. Jika pengeluaran kecil sering dilakukan, akan menyebabkan kebocoran yang cukup besar pada total dana.
  • Membuat menu makanan seminggu, termasuk buah-buahan dan camilan anak. Menu makanan utama, buah, dan camilan digunakan sebagai patokan dalam belanja kebutuhan mingguan sehingga tidak akan terjadi penimbunan dan bahan yang terbuang sia-sia.
  • Bijak dalam berbelanja. Menahan diri untuk tidak tergiur dengan iklan di media sosial tentang suatu produk. Mengutamakan kebutuhan daripada keinginan.
  • Dana yang mengalami penurunan, seperti kebutuhan gaya hidup, diskon bayar sekolah, dan transport digunakan untuk menambah tabungan.
  • Ingat untuk terus bersedekah. Pintu rezeki bisa datang dari pintu mana saja, termasuk dari pintu sedekah. Tidak takut untuk tetap bersedekah di saat pandemi karena sedekah bisa menambah kenikmatan dari Allah.

Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Saat pandemi dan kondisi ekonomi secara global mengalami goncangan, keuangan keluarga masih kondusif. Jika kondisi keluarga stabil, kunci utama adalah tetap bijak dan kontrol diri dalam membelanjakan barang. Tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi ini berlangsung (tapi terus berdoa supaya cepat berlalu), mempersiapkan keuangan keluarga sebaik mungkin dengan tetap menabung.

Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving (Warren Buffet). Quote ini yang yang masih susah diterapkan, tetapi aku berusaha untuk mengutamakan untuk menabung secara proposional.

Leave a Reply

Bahagia itu Kausalitas

October 9, 2020