Parenting

Beri Kesempatan Anak Berpikir Kritis

Berpikir kritis, salah satu tujuan kami dalam membesarkan anak. Aku pernah mengalami masa ‘gelap’ mempercayai perkataan orang begitu saja.

“Jangan makan biji jeruk ya, nanti bisa tumbuh pohon jeruk dari kepala ”.

“Anak gadis harus bersih kalau nyapu, nanti suaminya berewokan loh.”

“Kalau maghrib harus pulang, nanti diambil genderuwo!”

Perkataan yang menjebak dan membuat ketakutan pada masa itu. Berhari-hari memikirkan, gimana kalau kepalaku tumbuh pohon jeruk?  Melewati masa kecil dengan mitos tanpa penjelasan logis, sungguh membuat kebingungan. 

Berawal dari refleksi tentang masa kecil itulah, aku tidak ingin mengulangi pengalaman tersebut. Kami memutuskan bahwa berpikir kritis menjadi salah satu kemampuan yang harus ada pada anak-anak. 

Apakah Berpikir Kritis?

Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk memiliki alasan/ memberikan penjelasan, sehingga membuat orang yang mau terus belajar dan mencari infromasi.

Berpikir kritis akan terus mempertanyakan ketepatan ide dan asumsi yang diberikan orang lain dan berusaha mencari jawaban.

Berpikir kritis adalah mengenali, menganalisa dan menyelesaikan masalah secara sistematik. Menghindari penggunaan intuisi atau naluri.

Informasi yang diperoleh dari pengalaman dan observasi, diproses sehingga akan menerima kejelasan, ketepatan, konsistensi, keadilan, dan bukti yang kuat.

Cara berpikir kritis adalah tertata dalam mengolah informasi, menganalisa, membandingkan, membuat persamaan dan menyimpulkan data-data yang ada.

Bagaimana Anak Belajar Berpikir Kritis?

Orang tua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat, memiliki peran yang besar dalam mengembangkan kemampuan anak untuk berpikir kritis. Stimulasi orang tua agar anak berpikir kritis sebaiknya dilakukan sejak dini. 

Sekolah sebagai lembaga pendidikan, memiliki peran yang penting untuk mengembangkan pola berpikir kritis pada anak. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbanganku dalam memilih sekolah ketika anak di usia dini dan sekolah dasar.

Mencari sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bukanlah hal mudah. Beberapa sekolah memakai slogan berpikir kritis, tapi pada praktiknya belum memberikan kesempatan kepada anak. Di sekolah, anak dilatih untuk riset kemudian melakukan perbandingan dan persamaan. Sedikit demi sedikit memberikan panggung untuk anak berpikir kritis.

contoh latihan berpikir kritis

Tips Menstimulasi Berpikir Kritis

  1. Menanamkan Kebiasan Membaca

Membaca adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan dunia. Semakin banyak membaca, anak akan lebih terpapar kalimat, situasi, emosi, cerita, dan karakter. Semakin banyak membaca, otak anak akan menangkap informasi yang lebih banyak yang berguna dalam proses belajar.

2. Menganalisa Cerita

Membuat aktivitas membaca menjadi menyenangkan dengan membuat analisa dari cerita, membuat pesan moral, poin penting, karakter, dan melanjutkan cerita versi anak. Biarkan anak membuat plot twist, sehingga timbul ide kreatif.

3. Latih dengan Pertanyaan Terbuka

Memiliki anak yang suka bertanya, adalah awal yang baik. Setiap pertanyaan yang terlontar dari anak merupakan kesempatan untuk belajar. Membiasakan anak menjawab pertanyaan dengan unsur  5 W 1 H. Orang tua juga harus bersabar untuk mendengar jawaban dari sudut pandang anak.

4. Menyelesaikan Masalah

Membiasakan anak untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Membuat anak yakin bahwa anak memiliki jawaban sehingga ia memiliki pandandan bagaimana ia harus berpikir, mengolah informasi, berekasi dan memecahkan masalah.

Memotivasi anak untuk berani mengutarakan opini, menerai fakta, dan mencari solusi akan membangun kemampuan anak dalam membuat keputusan. Anak akan yakin dan memiliki keberanian untuk beropni dan memberikan solusi, ketika orang tua mau mendengarkan dan menghargai mereka.

5. Memberikan Tanggung Jawab

Tugas harian perlu diberikan kapad anak supaya mereka terbiasa mencari solusi seperti Melakukan tugas dan memberikan tanggung jawab seperti merapikan kamar setiap pagi, menyiapkan bekal makanan, dan melipat baju. Anak merasa sangat penting jika orang tua memberikan kepercayaan kepada mereka dengan memberikan tanggung jawab.

Pengalaman Anak Berpikir Kritis

Suasana rumah menjadi dinamis hidup karena anak yang banyak mengutarakan ide, pertanyaan dan pendapat. Saat makan bersama, sering menjadi waktu di mana kami saling bercerita, diskusi dan mengungkapkan pendapat.

Kesal dan jengkel juga pernah hinggap ketika anak-anak banyak mengutarakan pertanyaan dan pendapat. Melakukan satu hal sederhana, mereka mengutarakan berbagai alasan logis. Pergi makan di akhir pekan misalnya, anak-anak memiliki pendapat yang berbeda tentang makanan dan tempat yang akan kami kunjungi. Masing-masing anak akan mengutarakan sudut pandang seperti keuntungan dan kekurangan tempat pilihan.

Anak-anak update berita dan ingin mencari tahu tentang suatu hal. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh berita hoax begitu saja. Berusaha untuk inquiry terlebih dahulu. Mereka tidak bisa lagi dipengaruhi oleh mitos seperti masa kecilku. 

Anak yang berani mengutarakan pendapat dan berpikir kritis, memotivasiku agar lebih sabar mendengarkan dan terus belajar supaya bisa lebih asyik melakukan diskusi dengan mereka. 

Satu hal yang membuatku senang ketika anak-anak mampu mengembangkan kemampuan kognitif. Memilah info, mampu memberikan penjelasan logis dan sistematis. Salah satu bekal agar mandiri, kreatif dan sukses menghadapi masa depan.

Comments

October 1, 2020 at 21:33

Melatih anak berpikir kritis memang harus dilakukan sejak dini. Keuntungannya anak dapat mandiri dan bisa bertanggung jawab atas dirinya. Terima kasih sudah berbagi



ariefpokto
October 3, 2020 at 06:23

Saya senang Mbak memberikan kesempatan berpikir kritis. Jaman Saya kecil dulu berpikir kritis dianggap ganggu, sok tahu, cerewet.. padahal awalnya berasal dari keingintahuan.



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:56

    sama nih zaman kecil aku juga gitu… dibilang cerewet kalau banyak tanya. atau mentok dijawab, anak kecil mau tahu aja huufft



October 3, 2020 at 08:34

Anak-anak sekarang memang lebih kritis dan pinter sih menurut aku. Mungkin susu sekarnag juga lebih sehat dan canggih. Bener banget, harus diasah terus biar bisa ngebedain yang mana yang benar atau salah.



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:58

    hehehehe lingkungan dan teknologi berperan… orang tua sekarang lebih radar akan Peran parentingnya mungkin dibanding zaman dulu.



Diah Woro Susanti
October 3, 2020 at 18:13

Alhamdulillah anak anakku sejak bisa ngomong apa aja ditanya. Mungkin karena dari bayinya aku udah ngajakin ngomong terus kali ya heheh



October 3, 2020 at 19:58

Mencari sekolah yang memang memfasilitasi anak belajar berpikir kritis di Indonesia sepertinya tak mudah ya. Kalau ada, mungkin sekolah swasta yang mahal, yang dibangun dengan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan yang membelajarkan, bukan sekadar melihat nilai. Tapi setidaknya orang tua membiasakan anak dulu ya Mbak.



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 18:00

    betul Mbak Mugniar, masih langka sekolah yang benar-benar mendukung berpikir kritis. Sayang banget yah padahal kemampuan ini diperlukan untuk bekal mereka dewasa.



October 4, 2020 at 08:10

Mengajarkan anak berpikir kritis sejak dini memang sangat penting dan bermanfaat untuk masa depan anak



October 4, 2020 at 13:41

Pada saat anak banyak bertanya ini sebenarnya cikal bakal anak bisa berpikir kritis namun banyak orangtua yang bete saat anaknya bertanya ini itu. Padahal ini kesempatan emas untuk mengasah kekritisan anak.
Ulasan Mba Wida sangat runut dan in syaa Allah bermanfaat. Harus disebarkan ini 🙂



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:28

    ini yang masih sering terjadi ya teh, orang tua mematikan rasa ingin tahu anak. padahal itu modal penting. Makasih Teh Ani 🙂



Visya Al Biruni
October 4, 2020 at 19:02

Bukan soal ilmu hitung2an ya yang bisa membuat anak bertahan dalam hidup tapi berpikir kritis.



October 5, 2020 at 05:46

saya jugaa gitu mbak wid, sering kesal dan jengkel apalagi suka nanya hal yang sama berulang-ulang. Padahal mereka sedang berproses menjadi anak yang kritis yaaa.



Shafira Adlina
October 5, 2020 at 15:46

Bener bgt mbak..anak jadi kritis saat banyak membaca. Tambah lg tips saat anak beetanya jgn menghakiminya..jawab sebisa kita dan beritahu jika kita tau jawabannya dsn akan mencari jawabannya bersama2



October 5, 2020 at 16:26

Anakku mulai terlihat kritis nih, tapi sepertinya tetap perlu dilatih dan diasah ya, supaya pemikiran kritisnya jadi tajam hehehe



Lusi Dan
October 5, 2020 at 21:18

Menganalisa cerita, bisa jadi cara paling menarik ya mba. Karena anak-anak suka bercerita tentang apa yg dia lihat dan dengar



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:40

    Klo anak-anak tipe yang suka bercerita, cara analisa cerita bagus dipakai. Asyik banget kalau punya anak yang suka cerita.



October 5, 2020 at 22:02

Jadi ingat dulu ibu saya melatih saya berpikir kritis dengan cara pakai logika. Misalnya kalau bapak bilang anak perempuan duduk di depan pintu pamali, saya malah tetap duduk depan pintu karena penasaran pamali itu apaan. Namun pas ibu bilang, “Pakai logika dong, pintu kan tempat orang keluar masuk. Kamu duduk depan pintu itu menghalangi jalan tau,” Akhirnya saya malah minggir deh.

Atau jangan nyapu malam2, debu itu kecil, mana keliatan klo malam, kan nyapunya jd kurang bersih atau susah liat jarum di malam hari kalau mau menjahit, dan sejenisnya deh.

Sekarang saya mencoba pembelajaran itu terhadap keponakan saya deh. Hehehe..



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:43

    Waaa mbak Endah sebenarnya udah dilatih berpikir kritis ya oleh ibu, keren. sekarang dipraktikkan ke keponakan.



October 6, 2020 at 10:30

Ini juga lagi berusaha mengajarkan anak cara berpikir kritis dengan pertanyaan terbuka. Karena anaknya bisa lebih ekspresif.



October 6, 2020 at 21:04

Membiasakan membaca untuk anak berpikir kritis tetap jadi poin pertama ya mba. Dari membaca anak biasanya suka tanya ini itu juga



October 7, 2020 at 00:07

halo kak,
melatih anak untuk berfikir kritis memang harus diajarkan sejak dini, dimulai dari orangtuanya. mungkin bisa juga kak lewat diskusi kecil dimana anak diajak mengemukakan pendapat akan suatu permasalahan. dimulai dari hal kecil dan yang mudah dipahami anak tentunya, seperti tentang buang sampah sembarangan.



Reskia - KuskusPintar.com
October 7, 2020 at 11:29

Anak juga mesti kita percayakan dengan memberinya tanggung jawab dan menyelesaikan tugasnya, anak akan menjadi lebih mandiri deh. Sepakat.



    Wida Ariesi
    October 12, 2020 at 17:47

    tanpa tanggung jawab, anak tidak punya ‘beban’ dan bisa seenaknya. latihan dari hal kecil disesuaikan dengan usia.



Leave a Reply

Belajar Toleransi Sejak Dini

September 21, 2020