Parenting

Tumbuh bersama Gen Z

Aku adalah Gen X yaitu generasi yang lahir di rentang tahun 1965-1980. Masa kecilku akrab dengan televisi tabung dengan gambar hitam putih, saluran televisi hanya satu, telepon umum koin dan kartu, radio compo dan kaset, mesin ketik yang tutsnya bisa mematahkan kuku dan akhirnya berkenalan dengan komputer yang menggunakan disket.

Mengalami evolusi teknologi merupakan salah satu pengalaman menarik dalam hidup. Mulai dari alat sederhana hingga merasakan berbagai alat yang simple, praktis dan sangat membantu manusia. Beruntunglah aku masih bisa merasakan kecanggihan teknologi masa kini.

Anakku lahir sebagai Gen Z, yaitu generasi yang lahir dari rentang waktu tahun 1995-2010. Ketika Gen Z lahir, langsung menemukan teknologi canggih seperti laptop, saluran televisi yang beragam, smartphone, dan smart televisi. Tak heran jika dalam perkembangannya, mereka bisa multitasking dalam menggunakan gadget.

Perbedaan zaman menyebabkan adanya gap antara orang tua dan anak, seperti yang kualami. Perbedaan gaya hidup membuat orang tua sering merasa kaget. Gen Z misalnya, terbiasa akses dari gawai pintar dengan berbagai aplikasi minimal tiga jam sehari. Aneh saja melihat anak duduk memainkan gawai kemudian tertawa sendiri. Ternyata di balik jari yang asyik bermain gawai, mereka sedang menjelajah dunia dan mendapatkan pengetahuan baru.

Karakter Gen Z

  • Terlahir Digital. Sejak lahir sudah akrab dengan berbagai teknologi, rasanya ketika mereka tak canggung jika bertemu dengan teknologi baru. Langsung coba dan bisa. 
  • Rasa Percaya Diri. Gen Z memiliki rasa percaya diri yang lebih besar daripada generasi sebelumnya. Bandingkan saja dengan gen X yang kurang kesempatan dan banyak malu ketika harus menunjukkan kemampuan. Gen Z lebih berani tampil dan merasa mampu.
  • Serba Instan. Proses yang cepat dan hasil yang baik, itulah karakter gen Z. Bukan mencari jalan pintas, tapi gen Z ini terbiasa untuk berpikir dan bertindak cepat, sesuai dengan kecanggihan teknologi. Makanan pun juga instan seperti kedai cepat saji.
  • Kritis. Paparan Gen Z terhadap informasi sangat cepat dan terbiasa dengan sistem yang lebih terbuka. Mereka tidak lagi dilingkungan jawaban sederhana seperti Ya/ Tidak. Mereka terbiasa dengan jawaban disertai alasan dan logis.
  • Berpikiran Terbuka. Generasi Z memiliki wawasan yang luas dan lebih bisa menerima perbedaan kultur dibanding generasi sebelumnya. Mereka lebih memahami dan menerima perbedaan ras sehingga generasi Z bisa menjangkau dunia lebih luas.
Perbandingan Gen X dengan Gen Z

Menjadi orang tua dari generasi Z memiliki tantangan tersendiri. Nilai-nilai positif dalam keluarga seperti kepatuhan kepada orang tua, kebersamaan dan cara berbicara yang sopan tetap berlangsung dengan tidak meninggalkan ciri gen Z yang kritis dan berjiwa bebas. Terbuka, mendengarkan dan  berdiskusi menjadi cara agar aku bisa dekat dengan anak generasi Z.

Tips Tumbuh bersama Anak Gen Z

  1. Menghormati Privacy. Mereka lebih individual dan mandiri, privacy meupakan hal penting bagi gen Z. Orang tua sebaiknya belajar untuk memahami bahwa anak memiliki hak terhadap dirinya sendiri dan menjaga privacy anak.

2. Egois dan individual adalah salah satu karakter gen Z. Orang tua sebaiknya bisamenerima hal tersebut, tetapi tetap menanamkan nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Cara yang digunakan juga tidak berupa paksaan. Pemikiran Gen Z yang lebih terbuka, akan lebih mudah untuk diajak berdiskusi.

3. Mendukung Cita-cita. Anak generasi Z memiliki cita-cita yang cukup unik. Merekalah salah satu generasi yang menciptakan profesi-profesi baru yang belum ada Sebelumnya. Terkadjang cita-cita unik ini tidak dapat diterima oleh orang tua. Mencoba untuk menerima cita-cita anak dan yakin bahwa anak memiliki keinginan yang baik untuk masa depannya. 

4. Mengikuti Perkembangan Zaman. Orang tua sebaiiknya juga belajar untuk fleksibel dalam menerima perkembangan teknologi dengan turut serta belajar tentang berbagai media sosial , aplikasi, dan cara penggunaannya. Belajar kepada anak, akan membuka kedekatan dan lebih menimbulkan rasa percaya diri pada anak bahwa ia bisa berbagi ilmu.

Setiap generasi memiliki keunikan tersendiri. Generasi Z yang ramah teknologi membawa dinamika dalam perkembangan zaman. Komunikasi orang tua dan anak yang berbeda generasi bisa menjadi kendala dalam menciptakan hubungan harmonis lika tidak diikuti dengan keinginan untuk saling memahami.  

Leave a Reply

Belajar Toleransi Sejak Dini

September 21, 2020