Parenting

Cara Edukasi Kenormalan Baru Pada Anak

“Ma, new normal itu kita bisa jalan-jalan lagi di mal? Asyiiiik,” celoteh anak lanang.

Aku baru mau membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya, eh anak lanang sudah kabur. Dia berlari keliling ruang keluarga karena gembira bisa ke mal lagi. Sejak pandemi hal yang paling membuat anak lanang sedih adalah enggak bisa main di mal. Enggak bisa jajan, nonton di bioskop, les, dan lihat-lihat mainan baru di mal. 

Pandemi Covid-19 yang belum usai namun produktivitas harus tetap jalan. Roda perekonomian yang mulai menggeliat menjadi salah satu alasan agar new normal segera diterapkan. Pemerintah mengajak seluruh pihak terkait dan seluruh masyarakat untuk menerapkan protokol new normal covid-19.

Apakah New Normal?

Achmad Yurianto (mantan juru bicara Pemerintah untuk Covid-19 mengatakan, “New normal adalah tatanan baru dalam kebiasaan dan perilaku untuk hiduk bersih dan sehat.”

Kebiasaan dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dimaksud adalah cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker jika bepergian, dan menjaga jarak di kerumunan. 

Melakukan perilaku baru membutuhkan kesadaran dari setiap individu. Mencuci tangan misalnya, perilaku ini perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Sementara untuk beberapa orang, mencuci tangan belum menjadi perlaku yang dianggap penting. 

Pemakaian masker juga belum menjadi perilaku yang dianggap penting. Pemberitaan tentang orang yang enggan memakai masker hingga diberikan sanksi seperti push up, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga membayar denda. 

Perilaku-perilaku yang tidak mengikuti kaidah new normal ini dilakukan oleh orang dewasa. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Apakah anak-anak sudah melakukan perilaku sesuai kaidah new normal? Dunia anak yang suka bermain bersama teman dan memegang benda di sekitar sebaiknya mendapat perhatian tersendiri dari orang tua. Bagaimana cara mengenalkan new normal kepada anak, dan cara anak bersikap terhadap tatanan new normal ini.

Tips Memberikan Edukasi New Normal pada Anak

Anak-anak adalah pribadi yang unik. Setiap anak memiliki sıfat, karakter dan keinginan yang berbeda. Cara belajar setiap anak pun berbeda. Anak lanangku misalnya, dia lebih semangat belajar ketika aku temani. Dorongan dari dalam diri untuk terus bergerak sangat besar karena kapasitas energi yang dimiliki juga besar. 

Anak lanang suka bergerak, motoriknya aktif. Cara belajar ia sukai adalah bergerak dan visual seperti menonton video tutorial. Ia juga tipe anak yang cepat meniru. Hal yang dilakukan dan dikatakan oleh orang sekitar, akan cepat terekam kemudian ia tiru. Gaya mengomel ibunya pun ia contoh. 

Untuk mengenalkan new normal ke anak lanang, aku memiliki beberapa cara, yaitu :

  1. Tunjukkan secara langsung efek terkena Covid-19. Aku memilih untuk langsung menunjukkan efek covid-19 karena anak lanang ini tipe anak yang ‘goal oriented”. Dia melakukan suatu hal setelah tahu apa tujuannya dan apa yang akan dia dapat. Akibat terkena covid-19 seperti gangguan pernapasan, infeksi paru-paru hingga kematian aku beritahukan secara jujur. Hal yang membuatnya tidak mau terkena covid-19 adalah harus dirawat di Rumah Sakit tanpa ditunggui oleh aku. 
  1. Menggunakan bahasa dan media yang diterima anak. Anak lanang termasuk audio visual. Dia lebih mudah menerima informasi dan belajar dengan cara menonton dan mendengarkan suara. Cara yang aku gunakan adalah bercerita tentang kenormalan baru dan apa yang harus dilakukan. Setelah itu kami menonton Youtube untuk anak yang bercerita tentang new normal.

3. Beri contoh. Amati dan tiru, itulah yang terjadi pada anak. Mereka lebih sering mencontoh perilaku positif maupun negatif yang dilakukan orang di sekitar . Orang tua memiliki peran dalam memberikan contoh perilaku kepada anak. Perilaku kenormalan baru yang kami contohkan pada anak-anak adalah :

  • cuci tangan memakai sabun dan air mengalir. Kami menunjukkan bagaimana cara cuci tangan yang benar selama 30 detik dan menghemat air selama cuci tangan.
  • Memakai masker jika harus ke luar rumah. Setiap kali harus ke luar rumah, kami siapkan masker dan memakainya. Hal itu juga kami terapkan pada anak-anak. Untuk anak lanang, kami memesan masker kain dengan motif yang ia sukai. Jadi ia pun semangat memakai masker. 
  • Membatasi diri tidak melakukan kontak sosial. Kami meminimalisasi pertemuan sosial seperti arisan keluarga, mengunjungi saudara, makan di luar. Anak- anak pun jadi terbiasa untuk membatasi diri dari kerumunan. 
  • Langsung mencuci baju setelah bepergian. Setelah lari pagi, kami langsung meletakkan baju di sebuah ember yang berisi detergen. Anak lanang yang melihat, ikut melakukannya. Setelah naik sepeda keliling lingkungan rumah, dia meletakkan baju di ember detergen. 

4. Mengajak anak menyiapkan keperluan new normal. Aku mengenalkan peralatan apa saja yang dibutuhkan dalam menjalani new normal seperti masker, sabun, hand sanitiser, face shield, alat makan/minum, dan alat ibadah. Alat-alat tersebut diletakkan di tempat tersendiri yang mudah digapai.

5. Tetap disipilin jaga diri. Hal terpenting yang aku tekankan pada keluarga adalah agar tetap jaga jarak dan disiplin menjalani protokol kesehatan. 

Suatu hari, aku mengajak anak lanang ke mal. Dia menyiapkan masker, hand sanitizer, dan menjaga jarak ketiga berada di mal. Ketika naik tangga berjalan, dia memberi jarak dua tingkat dengan orang yang naik sebelumnya. Senang melihat perilaku anak lanang yang menjaga diri di new normal. Frekuensi rengekan ke mal juga berkurang karena dia jadi malas jalan-jalan di mal. “Pergi sebentar, tapi pulangnya harus mandi lagi, cuci cuci lagi.”

Kenormalan baru adalah suatu kondisi perilaku baru dalam menjalani pandemi. Memperkenalkan perilaku baru di masa pandemi kepada anak-anak merupakan usaha agar mereka menjaga diri dari covid-19. Bukan hal yang mudah untuk membiasakan anak kepada perilaku kenormalan baru tetapi harus segera dimulai. Anak tetap tumbuh dan berkembang di masa pandemi. Mereka butuh adaptasi perilaku di kenormalan baru agar tetap sehat jiwa raga.

Leave a Reply