Review

Perlukah Kenaikan Cukai Rokok Saat Pandemi?

Saat new normal pandemi covid-19, aku mulai melakukan olah raga di luar rumah, lari pagi dan bersepeda. Menikmati segarnya udara pagi di setiap tarikan napas dan memberikan oksigen sehat  kepada paru-paru. Sinar matahari pagi yang menemani, mengalirkan buliran keringat. Rasa segar yang menyenangkan. Saat melintasi jalan di setiap kayuhan, melihat suasana sekitar yang penuh dengan pohon hijau dan ilalang. 

Saat asyik olah raga, bertemulah aku dengan kerumunan anak remaja atau bapak-bapak yang duduk di pinggir jalan. Hembusan asap rokok perlahan menghampiri. Semilir angin segar berganti dengan bau asap rokok. Sontak aku merasa kesal. Bau polusi asap rokok sungguh mengganggu acara olah raga pagi yang menyenangkan. Terpaksa aku buru-buru melewati mereka dengan menahan napas sementara. 

Di lain kesempatan saat aku joging, menjumpai serrang pemulung sampah plastik yang bekerja mengambil botol-botol bekas minuman menggunakan motor sembari menghembuskan rokok. Satu tarikan napas yang aku hirup sebagai perokok pasif sudah membuat mood berubah. Bau asap rokok itu mengganggu konsentrasiku ketika jogging. Sementara perokok itu tidak peduli bahwa asap mereka mengganggu orang lain. Aku sampai berpikir, “Duh ini pemulung ngapain ngerokok buang-buang uang? Mending beli nasi bungkus buat anaknya.”

Pada kesempatan bincang ruang publik di KBR pada tanggal 29 Juli 2020, Prof. Hasbullah Thabarani sempat bercerita bahwa beliau bertemu pemulung yang pendapatannya sehari Rp. 50.000,00 dan digunakan untuk membeli rokok sehari Rp.20.000,00. Hampir setengah pendapatan digunakan untuk membeli rokok dibandingkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bermanfaat, seperti makanan bergizi. Prof. Hasbullah menyarankan agar pemulung itu membeli telur yang mengandung protein daripada sebungkus rokok. Rokok lebih penting daripada kebutuhan hidup.

Faktok-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Merokok sebagai bentuk perilaku merupakan manifestasi dari kebutuhan-kebutuhan tertentu yang dapat terpuaskan dengan merokok. Perilaku merokok merupakan reaksi seseorang dengan cara menghisap atau menghirup asap rokok, yang dapat diamati atau diukur dengan melihat frekuensi seseorang merokok. (Shiffman, 1993, Assesing Smoking Patterns and Motives).

Ketika seseorang ditanya mengapa ia merokok, akan muncul berbagai alasan. Ada yang karena mencoba lalu menjadi kebiasaan, ada pula karena membutuhkan ketenangan jiwa. Kondisi emosi yang dirasakan dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Brigham, Social Psychology (1991) mengatakan bahwa perilaku merokok dapat dipengaruhi faktor emosional, misalnya ketika seseorang mengalami negative thingking seperti cemas, marah, atau depresi.

Perilaku merokok merupakan interaksi antara faktor farmakologis dan psikologis. Secara psikologis mencakup aspek kontrol stimulus dan peran rokok sebagai reinforcer untuk mendapatkan rasa anikmat dan relaks. Kenikmatan dan rasa relaks merokok didapatkan kotika merokok dilakukan sesudah makan, sebagai penyerta minim kopi atau minum beralkohol. Perilaku merokok pada keadaan tersebeut sebagai perilaku merokok yang dapat mengurangi rasa comas, ketegangan, kebosanan dan kelelahan.

Iklan rokok juga mempengaruhi perilaku merokok. Merk baru bermunculan sehingga iklan tayangan rokok makin banyak. Iklan tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menarik hati pemirsa untuk mencoba produk tersebut. Efek iklan rokok itu membuat daya tarik tersendiri terutama bagi remaja untuk mencoba rokok. Contoh slogan salah satu merk rokok, “Enaknya rame-rame” membuat remaja lebih ingin mencoba rokok bersama-sama.

Nikotin memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempertahankan perilaku merokok. Nikotin mengandung zat adiktif yang membuat orang ketagihan dan terus melakukan perilaku merokok. beberapa kali mencoba rokok, zat adiktif dalam nikotin bisa membuat orang untuk mencoba lagi dan lagi. Akhirnya perilaku merokok menjadi kebiasaan.

Akibat merokok Saat Pandemi Covid-19

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) DR. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K) mengatakan bahwa pandemi Covid-19 merupakan saat yang tepat untuk berhenti merokok. Ada empat alasan yang dikemukakan oleh dr. Agus yaitu :

  1. Merokok menyebabkan gangguan imunitas pada saluran napas dan paru. Jaringan-jaringan kecil pada saluran napas yang berfungsi untuk menyapu dapat menurun kemampuan kerjanya hingga 50% dengan 2-3 hisapan asap rokok.
  2. Merokok meningkatkan regulasi reseptor Angiotensin converting enzyme 2 (ACE 2) adalah enzim yang menempel pada permukaan luar organ tubuh termasuk paru-paru. Pasien yang merokok di Kanada, memiliki kadar ACE2 lebih tinggi pada savuran napas bawah dibanding bukan perokok. Perokok lebih rentan terhadapa COvid-19 Karena enzim mempercepat infeksi.
  3. Risiko infeksi covid-19 lebih tinggi terhadap passen komorbid / penyakit penyerta. Perokok  beresiko mengidap penyakit kronik seperti diabetes, jantung, kardiovaskular.
  4. Perokok lebih sering medegang area mulat tanga cuci tangan terlebih dahulu. Hal ini memperbesar risiko penularan Covid-19 Karena salah satu cara virus masuk melalui mulut. 

Paparan dr. Agus tersebut memberikan gambaran bahwa perokok akan lebih rentan untuk tertular Covid-19 dan berisiko tinggi terhadap gejala serius dan bisa menyebabkan kematian.

Kenyataannya bahwa saat pandemı, angka merokok lebih tinggi. DR. Reny Nurhasana menyatakan bahwa kondisi pandemi, work from home membuat pekerja formal lebih leluasa merokok di rumah. Istri, anak-anak dan anggota keluarga lain menjadi korban sebagai perokok pasif. 

Di acara ruang publik KBR Dr, Reny Nurhasana menyebutkan bahwa dari data di Kemenkes, merokok itu membuat 14x lebih parah terhadap gejala covid-19. Sehingga penting menekan angka merokok saat pandemi. 

Efek Cukai Rokok Saat Pandemi

Saat pandemi, perusahaan rokok mengklaim bahwa produksi dan demand mengalami kenaikan. Mengapa demikian? Karena saat pandemi, perokok justru memiliki keleluasaan yang lebih untuk merokok dan harga rokok yang masih terjangkau. Padahal awal tahun 2020, pemerintah telah menaikkan cukai rokok 23% dan harga eceran rokok mengalami kenaikan sebesar 35%.

Ruang Publik KBR

Prof. Hasbullah Thabarany mengungkapkan bahwa keberhasilan kebijakan cukai rokok jangan hanya dilihat dari berapa persen tingkat kenaikan, tapi dilihat dari keberhasilan tujuan yaitu menurunkan angka perokok. 

Kenaikan cukai rokok yang dilakukan pemerintah ternyata belum dapat menekan jumlah perokok di Indonesia Karena kenaikan 35 % ini belum signifikan dirasakan. Untuk melihat signifikansi kenaikan cukai rokok adalah dari penurunan konsumsi rokok. Justru kenyataaannya pada lima tahun terakhir, banyak remaja merokok berarti harga rokok masih terjangkau.

Berapa harga yang harus dijual agar tujuan kenaikan cukai rokok ini tercapai? Harga per bungkus Rp20.000,00 – Rp30.000,00 ternyata masih mampu dibeli. Sebaiknya harga per bungkus rokok mencapai Rp70.000,00 dengan demikian hanya kalangan terbatas yang mampu membeli rokok. 

Saat pandemi seperti sekarang ini, perilaku sehat sangat dibutuhkan untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Pengaruh rokok telah dijelaskan diatas terutama saat pandemi. Dibutuhkan harga rokok yang tinggi dan kenaikan biaya cukai rokok yang agar tercapai tujuan . 

Kenaikan cukai rokok jangan dilihat sebagai hal merugikan bagi petani tembakau karena sebenarnya petani tembakau juga diuntungkan dengan kenaikan harga tembakau yang dibeli dari perusahaan rokok. Cukai rokok ini seharusnya dilihat sebagai denda dari perokok karena merusak dirinya dan lingkungan bukan sebagai kontribusi terhadap pendapatan negara. 

Peran Pemerintah Saat Pandemi

Banyak pengalaman yang membuktikan bahwa perokok lebih mementingkan membeli rokok daripada membeli kebutuhan hidup. Hal ini banyak terjadi di masyarakat dengan ekonomi pra sejahtera. Di masa pandemi, dimana terjadi penurunan ekonomi Pemerintah berusaha membantu rakyat ekonomi pra sejahtera dengan memberikan bantuan sosial langsung secara tunai. Diharapkan dengan bantuan ini, keluarga yang terkena dampak ekonomi di masa pandemi covid-19 dapat lebih leluasa memenuhi kebutuhan hidup.

Bantuan tunai langsung yang diberikan Pemerintah pada kenyataannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh penerima. Tujuan pemberian bantuan guna pemenuhan kebutuhan hidup malah digunakan untuk keperluan lain. Sistem Patriarki di Indonesia menyebabkan penerima bantuan adalah suami. Seringkali bantuan ini dipakai Suami untuk nembeli rokok daripada memenuhi kebutuhan pendidikan keluarga.

Evaluasi keberhasilan dan pendampingan perlu dilakukan secara berkala agar program bantuan Pemerintah dapat tercapai sesuai tujuan. Saat pandemi seperti sekarang ini, faktor ekonomi mengalami guncangan. Selayaknya masyarakat lebih sadar diri dan memanfaatkan bantuan Pemerintah sebaik mungkin.

Tujuan kenaikan cukai rokok sebagai pengendali perilaku merokok sepatutnya terus dilakukan agar tercipta generasi dan lingkungan yang sehat. Terutama di saat pandemi, kesehatan memegang peranan penting agar terhindar dari covid-19. Keberhasilan bebas rokok dan terbebas dari pandemi menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat.

Kalau aku, setuju dengan kenaikan cukai rokok di saat pandemi. Tujuan menekan jumlah perokok sangat membantu mempercepat pandemi usai. Terlebih lagi dengan bebas rokok, aku bisa berolah raga dengan tenang. Bebas asap rokok di pagi hari membuat badan sehat dan mood terjaga dengan baik.

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa anda liat disini.

Leave a Reply