self reminder

Bekal Ilmu Ibu

Semasa sekolah dan kuliah, aku berpikir bahwa ilmu bermanfaat untuk mendapatkan dan melakukan perkerjaan tertentu. Setelah mengalami dunia kerja, menjadi ibu dan kemudian full time mom, baru aku radar bahwa ilmu yang aku pelajari sejak kecil bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 

Menjadi Ibu bukanlah hanya sebuah status yang melekat setelah melahirkan anak. Ibu adalah predikat paling membanggakan seumur hidup karena ibu adalah sumber ilmu. Berbagai formula ilmu seperti agama, matematika, science, bahasa, sejarah, seni budaya, ahlak, kesehatan dan berbagai ilmu lain bisa didapatkan dari seorang ibu. Ibarat mata air  yang tak pernah habis membagikan kehidupan bagi bumi, itulah ilmu seorang ibu.

Bekal ilmu seorang ibu timbul dari rasa ingin tahu untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya ketika anakku mulai MPASI di usia enam bulan. Bermuda dari rasa ingin tahu agar bisa memenuhi kebutuhan gizi anak, kemudian mencari tahu. Bahan makanan yang baik di awal MPASI, manfaat, cara memasak, cara penyimpanan dan bagaimana menyajikan yang menarik minat anak. Setelah dipraktekkan dan merasa puas, ilmu MPASI ini bisa aku tularkan ke teman-teman lain yang membutuhkan.

Dimana seorang ibu bisa mendapatkan ilmu?

  1. Warisan orang tua. Orang tua atau keluarga sudah memiliki ilmu tersendiri dari pengalamannya. Biasanya ilmu ini akan dibagikan ke generasi berikutnya. Misalnya resep masakan andalan, resep obat keluarga.
  2. Sekolah. Pengalaman menuntut ilmu di bangku sekolah merupakan modal bagi seorang ibu. Ilmu yang diajarkan di sekolah/kuliah mungkin tidak akan terasa langsung, tapi ketika menjadi ibu akan dapat diaplikasikan. Aku merasakan manfaat belajar Psikologi perkembangan ketika menjadi ibu.
  3. Kajian ilmu atau pelatihan. Melalui mengikuti kajian ilmu seperti agama, atau ilmu pengetahuan seperti bercocok tanam, memasak, pengasuhan, bisa menambah bekal menjadi ibu pintar. Misalnya ketika rajin datang kajian agama, ibu bisa mengajarkan ilmu agama tersebut ke anak seperti belajar mengaji.

Bukti bahwa Bekal Ilmu Tak Akan Pernah Habis

Pada suatu waktu, aku pernah merasa bahwa ilmu yang aku miliki berhenti sampai disitu. Tidak ada peningkatan dan tidak bermanfaat. Datanglah seorang teman bertanya tentang belajar yang efektif untuk anaknya. Aku memberikan beberapa opsi dan berhasil. Tahsin (membaca Alquran dengan baik dan benar) selain bermanfaat untuk diri sendiri, bisa bermanfaat bagi orang lain. Komunitas muslim lingkungan rumah, memberikan kesempatan padaku untuk berbagi ilmu tahsin kepada ibu-ibu sekitar yang belum lancar mengaji.

Ilmu yang pernah aku peroleh di bangku sekolah/kuliah, bisa membantu anak-anak untuk mempelajari pelajaran sekolah. Bahkan hal sederhana seperti cara membuat jadwal harian, cara mengatur waktu, cara membaca, membuat mind map bisa bermanfaat. Padahal sebelumnya tidak pernah terbayangkan bagaimana ilmu yang sepele bisa bermanfaat bagi orang lain apalagi untuk anak sendiri.  

Tips Agar Ilmu Bermanfaat

  1. Berpikiran terbuka / Open minded. Berbagi ilmu untuk siapa pun dan dimana pun. Tidak membatasi diri bahwa ilmu hanya bermanfaat untuk suatu kelompok. Ilmu sekecil apa pun bisa bermanfaat bagi orang lain.
  2. Praktekkan dan Ulangi. Ilmu akan bermanfaat jika dipraktekkan dalam keseharian.  Pengulangan akan membuat ilmu makin berhasil diterapkan.
  3. Kesabaran. Belajar dan berbagi ilmu membutuhkan ketenangan dan kekuatan hati. Tidak cepat menyerah dan tergesa-gesa mengikuti proses.

Bekal ilmu seorang ibu tak akan pernah mubazir karena terus mengalir untuk dibagikan dan bermanfaat bagi anak-anak, keluarga dan lingkungan. Mengisi selalu tangki ilmu seorang ibu untuk menjadi bekal yang bermanfaat karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Thabrani & Daruquthni)

Leave a Reply