Parenting

Kembali ke Sekolah di New Normal

New normal dalam masa pandemi Covid-19 menurutku adalah sebuah istilah untuk penyebutan era baru cara bersosialisasi. Menjaga jarak, rajin cuci tangan, memakai masker atau face shield, membawa peralatan makan-minum-salat sendiri dan konsumsi makanan bergizi. Nyatanya di new normal, covid-19 masih beredar dengan ceria tanpa memandang usia. Orang pun makin banyak yang tidak peduli terhadap kaidah new normal. Beberapa sudah cuek tidak menggunakan masker dan malas cuci tangan. 

Libur sekolah telah berakhir. Tanggal 13 Juli 2020 anak-anak kembali bersekolah di era pandemi Covid-19 dalam tatanan New normal. Aku senang ketika mendengar kabar bahwa di new normal ini, anak-anak masih melakukan proses belajar daring. Mereka tidak bertemu dengan lingkungan lain yang kita tidak tahu secara pasti bagaimana status kesehatannya. Anak-anak masih aman berada dalam lingkup tertentu yaitu lingkungan rumah. 

Keputusan Pemerintah untuk memberlakukan sistem belajar dari rumah menurutku adalah keputusan yang tepat. Faktor imunitas dan belum ada kontrol yang baik terhadap perilaku anak sebaiknya menjadi faktor pertimbangan. Bisa saja mereka berlari-lari, menyentuh barang, tidak menjaga jarak aman, lalu lupa cuci tangan dan memasukkan jari ke dalam mulut.

Penerapan Belajar di New Normal

Panduan protokol kesehatan new normal dalam proses belajar mengajar telah ditetapkan oleh Mendikbud. Salah satunya adalah kabupaten zona sekolah harus hijau dan disetujui Pemda. Sayangnya, ketetapan ini disalahartikan atau tidak dihiraukan. Beberapa sekolah yang masih dalam zona merah, sudah menetapkan metode tatap muka langsung. 

Beberapa sekolah yang terletak di daerah perkampungan sekitar rumah misalnya, sudah menerapkan metode tatap muka dengan protokol anak memakai masker. Apakah masker saja mampu menghalau Covid-19? Tampaknya pemahaman orang tentang Covid-19 ini belum mendalam, hanya memakai masker, tanpa mempertimbangkan jarak fisik, kebersihan fasilitas dan daya tahan tubuh.

Sekolah yang rata-rata muridnya berada pada kondisi ekonomi “mampu”, belum menerapkan sistem tatap muka secara langsung. Sistem daring masih dipilih sembari menyiapkan fasilitas penunjang seperti tempat cuci tangan dan sabun, pengaturan jarak murid, pembersihan berkala ruang dan fasilitas sekolah. 

Apa bedanya ajaran baru kali ini?

Memasuki kelas baru akan menimbulkan semangat dan motivasi berbeda. Ada anak yang semangat ingin tahu dimana letak kelas barunya, bagaimana kondisi kelas, siapa wali kelas, siapa guru-guru pengajarnya, dan siapa teman-teman sekelas. Motivasi ke sekolah yang bervariasi seperti ingin punya teman baru, belajar lebih rajin, mau pakai perlengkapan sekolah (tas, sepatu, buku, seragam) baru menjadi keceriaan yang menemani anak-anak dalam menjalani hari pertama sekolah.

Tatanan new normal yang memprioritaskan kesehatan anak-anak, membuat anak-anak tetap di rumah dan menikmati belajar secara daring.  Semangatkah anak-anak menghadapi hari pertama sekolah? Bangun pagi seperti layaknya jam sekolah lalu bersiap untuk pertemuan daring dengan guru. Ada semangat namun kurang antusias untuk menyambut hari. Apa alasannya? “Kurang Seru ah, enggak ketemu sama teman-teman langsung”, ujar anak lelakiku. Keluhan sederhana namun menyadarkan bahwa mereka adalah mahluk sosial yang merindukan momen main bersama.

Mas K belajar secara daring

Sistem belajar lebih banyak menggunakan gawai dengan pertemuan daring, membuat orang tua perlu menyiapkan fasilitas gawai dan jaringan internet. Proses belajar dilakukan melalui pertemuan daring atau pemberian materi dan tugas di sebuah folder. Waktu sekolah anak-anak selama kurang lebih enam sampai delapan jam di sekolah, akan tetap dihabiskan di rumah.  Bosan? Bisa jadi karena anak akan berada dalam lingkungan yang sama secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Daya eksplorasi dan kebebasan berekspresi dengan gerakan aktif juga terbatas. Lingkungan sekolah dengan bertemu langsung teman dan guru bisa merangsang daya eksplorasi anak untuk mencoba hal baru. Kemampuan eksplorasi ini penting guna sebagai bekal membangun kemampuan analisa, logis dan berpikir kritis. 

Selain hal-hal yang perlu diperhatikan dari sisi anak, tak kalah pentingnya adalah kesiapan orang tua. Waktu, tenaga dan emosi orang tua dalam menghadapi belajar di rumah yang dilakukan anak-anak, perlu disiapkan. 

Tips menghadapi belajar di rumah saja

  • Membangun komunikasi efektif antar angora keluarga. Komunikasi antar anggota keluarga berperan penting dalam pelaksanaan kegiatan belajar di rumah. Menyampaikan pesan dengan kata-kata yang sopan, kebebasan mengutarakan pendapat dan perasaan akan membangun kedekatan sesama anggota keluarga.
  • Menjaga kestabilan emosi anggota keluarga. Orang tua juga memiliki kesibukan selain mengajari anak dengan materi belajar di rumah. Apalagi bila kedua orang tua adalah pekerja. Orang tua sebaiknya tidak memberikan ekspektasi berlebihan terhadap pencapaian anak karena dapat membuat emosi anak tidak stabil dan merasa tertekan. 
  • Belajar menjadi pendengar. Anak-anak dalam situasi tertentu membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan keresahannya. Mendengarkan empati tanpa disertai dengan komentar atau nasihat yang memberikan penilaian terhadap anak. Aktivitas belajar dengan cara tatap muka melalui gawai belum tentu cocok untuk semua anak. Mereka memiliki bambatan dan keresahan untuk menyesuaikan dengan sistem baru. 
  • Melakukan supervisi yang selayaknya. Rasa ingin tahu orang tua terhadap kegiatan belajar anak dan penggunaan internet bisa menjadi hambatan jika dilakukan secara berlebihan. Orang tua tetap melakukan supervisi, seimbangkan antara memberikan bimbingan dan memberikan kesempatan anak untuk mandiri. Terlalu Percaya terhadap penggunaan internet tanpa disertai bimbingan juga akan berdampak kurang baik.
  • Buat kegiatan rutin bersama anak. Hal ini berisi waktu, hal apa yang dilakukan dan kapan dilakukan serta evaluasi kegiatan. Isi dengan kegiatan diluar pelajaran seperti menambah kemampuan anak dalam menggambar, musik, agama atau olah raga. Permainan papan (board games) juga bisa dilakukan.

Sekolah dan proses belajar adalah hal yang penting untuk anak-anak. Perlu peran serta optimal dari orang tua agar proses belajar di new normal berjalan dengan nyaman bagi anak. Belajar di new normal bukanlah hanya sekedar memakai atribut seperti masker, menggunakan hand sanitizer, rajin mengikuti pertemuan daring, dan mengerjakan tugas sekolah. Tantangan terbesar orang tua adalah memberikan perkembangan psikis dan emosional yang selaras dengan perkembangan kognitif.

Leave a Reply