Family / Parenting

Terperangkap dalam Toxic Family

Keluarga, kata ini terdengar indah. Apa yang muncul di bayangan kita jika mendengar kata “keluarga”? Pasti akan berbeda pada setiap orang. Ada yang teringat akan kenangan indah bersama keluarga atau malah teringat hal pahit dengan keluarga. Keluarga adalah suatu sistem dimana anak mendapatkan pendidikan pertama, tempat berlindung yang memberikan rasa kenyamanan bagi setiap anggota dan ada rasa saling mencintai satu dengan lainnya.

Namun pada kenyataanya tidak semua keluarga dapat berfungsi dengan baik karena ada beberapa faktor, seperti adanya anggota atau hubungan yang toxic.  

Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” (NKCTHI), menceritakan hubungan emosional dan perilaku dalam sebuah keluarga yang pada awalnya terjalin dengan manis dan damai. Namun pada kenyataannya perasaan masing-masing anggota keluarga terluka. Mereka berusaha untuk menampakkan kenyamanan tapi dalam diri anggota keluarga tertekan. Mereka tidak bebas mengutarakan perasaan dan keinginan terhadap suatu hal karena harus mematuhi keinginan sang ayah. 

Tanpa kita sadari seperti yang terjadi dalam NKCTHI ternyata dalam keluarga ada orang yang memberikan toxic. Orang yang selalu berusaha untuk mengontrol, senang mengkritik, hanya peduli pada diri sendiri, kurang berempati, senang membesarkan masalah, suka menyalahkan orang lain atau sering memanipulasi kebaikan orang lain. Kita baru menyadari setelah hidup bertahun-tahun bersama. 

Awalnya kita berusaha untuk tetap nyaman dengan alasan ‘keluarga’. Lambat laun kita tidak mampu untuk membendungnya karena merasakan efek yang tidak menyenangkan. Hubungan suami-istri, orang tua-anak, antar saudara, atau dengan anggota keluarga lain bisa menjadi sumber terjadinya toxic family. 

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa kita ada di dalam lingkungan toxic family?

  1. Kita merasa tidak terlihat oleh anggota keluarga lain sehingga kita tidak bisa mengatakan, merasakan, atau melakukan suatu hal. Kita merasa sendirian tanpa ada yang memperhatikan.
  2. Merasa tertekan dan terjebak. Hal ini biasanya karena ada anggota keluarga yang dominan atau memanipulasi kebaikan yang kita miliki. 
  3. Merasa tidak ada hal positif yang didapatkan dari interaksi.
  4. Terjadi kekerasan baik secara emosional, fisik atau seksual.
  5. Secara terus menerus merasa tidak bahagia ketika berada di dekat mereka

Efek Toxic Family

Berada dalam toxic family membuat stress dan trauma, sulit percaya pada orang lain, dan menyalahkan diri sendiri. Dalam NKCTHI, Awan sebagai anak bungsu yang dikontrol terus menerus oleh sang ayah merasa stress. Dia ingin menjadi pribadi mandiri dan berusaha mencari aktivitas yang membuatnya bahagia. Aurora sebagai anak tengah, merasa tidak pernah ada karena tidak menerima perhatian dari sang ayah. Ia menyalahkan dirinya karena tidak mampu melakukan hal yang membuat ayahnya bangga. Angkasa, anak sulung yang selalu diberikan tekanan untuk menjadi ‘penjaga adik’ secara tidak langsung memberikan efek toxic terhadap hubungan dengan kekasihnya. Perhatiannya selalu tercurah kepada Awan karena desakan ayah sehingga kurang memperhatikan kekasihnya. Dampak kelanjutan dari toxic family adalah yang awalnya sebagai  korban, akhirnya bisa menjadi pelaku

Sikap Menghadapi Toxic Family

Kita memang tidak bisa memilih siapa yang bisa menjadi bagian dari keluarga. Namun kita memiliki pilihan dalam hidup. Kita bisa memilih untuk hanya menerima semua perlakuan yang mengandung toxic. Bila memilih sikap ini artinya kita harus siap menghadapi segala resiko. Kita juga memiliki pilihan untuk berusaha memperbaiki keadaaan, mengatasi konflik dan mengajak semua anggota keluarga untuk berubah. Memang bukan hal yang mudah, namun bisa dicoba. Mulailah dengan mengatakan secara terbuka dan perlahan apa yang dirasakan. Jika pilihan tersebut tidak berhasil, mungkin kita harus menyelamatkan diri sendiri dan berusaha mandiri. Keluar dari lingkungan keluarga yang toxic sembari belajar mengelola emosi dan memilih untuk bahagia secara mandiri.

Keluarga, lingkungan pertama dalam hidup seseorang. Keluarga sebagai sumber cinta dan kekuatan dan dalam keluarga pun terdapat sumber kebencian. Hubungan darah memang tidak dapat dihapuskan namun tiap pribadi berhak untuk menentukan jalan hidup, berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. 

Materi tentang toxic family, saya dapatkan dari webinar dengan narasumber Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog. Seorang wanita cerdas, mandiri, dan penuh dedikasi. Teman masa kuliah di kampus biru, Yogya.

Anakmu bukanlah milikmu,
Mereka adalah putra-putri sang Hidup,
Yang rindu akan dirinya sendiri
(Anakmu Bukan Milikmu, Kahlil Gibran)

Comments

July 11, 2020 at 23:10

Wah bahasannya lumayan sensitif ya, soal toxic family, karena memang banyak yang tidak sadar ( atau tutup mata ) mereka ada didalamnya. Atau terperangkap. karena kita terbiasa mendengar kalimat harta yang paling berharga, adalah keluarga. Kalau bisa sih diperbaiki kalau memang sudah disadari. Tapi langkahnya tidak mudah tapi bukan tidak mungkin.



July 12, 2020 at 04:16

Alhamdullilah di WAG keluarga ngga ada yang demikian
Malah di WAG alumni, Karena malas ribut biasa nya kami menghindar



    Wida Ariesi
    July 12, 2020 at 15:12

    Alhamdulillah, itu rezeki yang patut disyukuri punya keluarga yang bikin nyaman. Yes, menghindari yg dirasa toxic akan lebih aman.



July 12, 2020 at 09:49

Self Reminder nih supaya jangan banyak nuntut sama anak karena bagaimanapun juga dia berhak bahagia untuk hidupnya. Dan saya rasa setiap keluarga pasti ada toxic Family ya, semoga kita bisa mengatasi dan menghindarinya ya.



July 12, 2020 at 14:29

Klo ngomongin keluarga plus bahas film NKCTHI tuh berasa pengen nangis lg nih mba hehe. Inget banget pas nonton temen ku bilang “i know what you feel”.



    Wida Ariesi
    July 12, 2020 at 15:16

    tulisan aku menghadirkan ‘kenangan’ yah… tetap semangat dan semakin kuat berpijak ya mas Adhe



July 13, 2020 at 16:19

Wah reminder banget ini lho
Terkadang dalam keluarga ada aja sih yang “toxic”
Bikin geregetan dan rasanya pengen jauh-jauh deh
Tapi yang begitu kalau makin dibiarin nanti malah gak sadarsadar dianya
Semoga kita bisa menjaga diri untuk gak jadi toxic dan terhindar juga dari toxic begini ya



    Wida Ariesi
    July 25, 2020 at 16:58

    betul mbak, ada aja yang toxic… aku berusaha jaga imunitas diri klo lagi deketan ama keluarga yg toxic



July 13, 2020 at 22:43

Menjalani suatu kehidupan memang tak selalu sejalan dengan yg kita inginkan termasuk salah satunya berada dilingkarkan toxic family
Namun demikian, kita harus bisa berupaya memperbaiki hubungan hingga senormal mungkin. Seburuk apapun keluarga, mereka adalah sebaik-baik tempat untuk kembali suatu saat nanti



Visya
July 14, 2020 at 14:02

Ahh toxic family. Jangan sampai keluarganya demikian yah mbak. Bahaya banget mengingat keluarga adalah lini terkecil Dalam kehidupan terlebih harusnya hadir sebagai tempat pulang



    Wida Ariesi
    July 25, 2020 at 16:52

    Keluarga tempat pulang yang nyaman dan menenangkan… semoga kita dikelilingi keluarga yang mengandung madu.



July 14, 2020 at 22:06

Wah aku nonton tuh kak Film NKCTHI, emosinya dapet banget sih soalnya bahas keluarga. Ini juga membuktikan bahwa jadi orang tua itu nggak mudah yaah kak, harus bener-bener bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya 🙂



July 15, 2020 at 11:52

Banyak hal yang bisa diambil dari Film ini yang berkaitan dengan hubungan Keluarga ya, karena walau bagaimanapun kenyamanan hati sangatlah penting, jangan sampai ada yang merasa insecure karena sikap atau karakter satu dua orang. Pembelajaran buat aku juga sebagai Orangtua 🙂



July 15, 2020 at 16:06

Soal toxic family ada banget nih. Biadanya bikin emosi. Tapi saya memilih menghindar. Untungnya hanya keluarga jauh.



July 15, 2020 at 21:07

bahasa waww bgt nih toxic family. anw, rezeki itu bukan cuma uang sih tapi hadir ditengah2 keluarga yang adem ayem dan rukun juga rezeki, smg kita semua dijauhkan dr hal2 negatif amiin



July 15, 2020 at 23:06

Saya tahu rasanya ada di dalam toxic family. Dan pada akhirnya saya memilih untuk kebahagiaan yang mandiri. Itu pun selalu disalahkan sebagai anak yang egois. Life.



    Wida Ariesi
    July 25, 2020 at 16:46

    pilihan utk bahagia mandiri terkadang masih susah untuk dipahami oleh orang lain.Tetap semangat mbak



Leave a Reply