Travelling

Romantisme Bromo

            Jingga ufuk pagi

            Menyingkap kabut dini hari

            Rona surya menyebar energi

            Memberi kehangatan seluruh negeri

Perjalanan kami tempuh dengan Jeep sewaan melewati jalan berliku tajam, tanjakan dan gelap gulita. Aku mencoba untuk tenang dan duduk manis. Ingin menikmati pemandangan tetapi hanya tampak kegelapan. Sekitar tiga puluh menit menahan posisi duduk yang sering bergeser karena tanjakan tajam, akhirnya perjalanan dengan Jeep berakhir. Kami tiba di pemberhentian akhir kendaraan menuju Bukit Pananjakan.

Semilir angin menerpa kulit, mengalirkan rasa dingin ke dalam tubuh. Pukul 02.00 kami tiba di Bukit Pananjakan. Konon katanya melalui Bukit Pananjakan ini, kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan yaitu matahari terbit yang paling indah di Bromo. Sepanjang jalan menuju Bukit Pananjakan terdapat warung-warung yang menyediakan minuman, makanan dan perlengkapan kehangatan seperti sarung tangan, kaos kaki, syal dan topi. Kami memutuskan untuk mampir di sebuah warung untuk menikmati teh hangat,kopi susu hangat, dan mie rebus instan yang sudah mendunia.

 

Dini hari adalah suhu yang paling dingin di Bukit Pananjakan. Jalan kaki menuju puncak Pananjakan kami selingi dengan menyemburkan asap dingin dari mulut. Anak lelakiku paling senang melakukannya karena biasanya hanya melihat asap rokok dan asap knalpot perkotaan. Kami berlomba siapa yang paling jelas dan besar menyemburkan asap dingin dari dalam mulut. Ya tentu saja mungkin ada bau-bau mulut yang turut kami sebarkan.

Bukit Pananjakan gelap, minim lampu penerangan, Tampak nyala dari gawai beberapa orang yang sudah sampai disana. Terdapat pagar besi dan tangga beton seperti tribun untuk tempat duduk menikmati matahari terbit. Kami mencari tempat di tengah karena udara dingin makin menusuk kulit. Pukul 03.00 dini hari dan tribun sudah lumayan ramai orang. Aku dan kedua anakku duduk di tribun, sementara suami sibuk mencari posisi strategis untuk membidik kemunculan Sang Surya. Anak lelakiku makin menggigil. Meski sudah menggunakan jaket, topi, syal, sarung tangan dan kaos kaki dinginnya dini hari tak dapat ditangkis. Aku menyewa beberapa selimut yang ditawarkan oleh para niagawati disana. Satu selimut untuk alas tidur anak lelakiku, satu lagi untuk membungkus badannya dan satu lagi untuk dipakai anak perempuanku. Cukup lama memang kami hanya duduk menunggu “artis” Sang Surya muncul. Kalau datang terlambat, kita tidak mendapatkan tempat duduk tribun dan terlewatkan spot terbaik untuk melihat terbitnya matahari.

 

Asap tebal berjalan mengikuti alunan angin, dingin menyergap. Di seberang bukit tampak deretan api menyala yang mengalir dari atas ke bawah. Bromo merupakan salah satu Gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Angin dini hari bermain-main membuat mata makin sayu. Anak lelakiku masih menggigil di dalam selimut. Aku makin erat mendekapnya. Obrolan-obrolan orang di sekitar menjadi teman telinga selama menunggu sang Surya.

 

Pukul 04.20 langit gelap mulai dihiasi rona jingga. Perlahan warna jingga mendominasi, diikuti dengan munculnya warna biru secara malu-malu di ufuk. Perpaduan jingga, biru, dan putihnya kabut menjadi pemandangan yang breath taking. Memuji nama Sang Pencipta karena kuasanya mampu menciptakan keindahan duniawi. Perlahan tampaklah puncak Bromo yang diselimuti kabut.

 

 

Rona mentari mengubah rasa dingin menjadi kehangatan yang merasuk perlahan ke dalam kalbu. Terang langit di ujung Bromo adalah pemandangan yang membangkitkan jiwa hampa menjadi jiwa yang bernyawa. Awalnya kami hanya duduk tenang menahan dingin, ketika matahari perlahan terbit, timbullah semangat untuk bergerak. Seperti lagunya mas Ari Lasso mungkin yah, Mengejar Matahari.

 

 

Pemandangan dari Bukit Pananjakan ini memang yang paling jelas untuk melihat matahari terbit di Bromo. Dari sini pun kita dapat melihat tiga puncak gunung sekaligus yaitu Bromo, Batok dan Semeru. Aku memutuskan untuk tetap duduk dan menikmati saja keindahan alam ini. Tidak setiap hari aku bisa menikmati salah satu kebesaran Ilahi. Pemandangan ini membawaku kepada kesadaran bahwa begitu kecilnya manusia di hadapan Allah. Seringkali aku merasa hebat, merasa paling berdaya dan kuat tapi nyata di hamparan awan dan kabut Gunung Bromo, aku nyaris tak berdaya. Apa yang bisa aku lakukan di hadapan Allah?

Orang-orang di sekitar menjadi euphoria untuk mengabadikan momen, mengambil foto gunung atau selfie. Suasana pagi menjadi meriah. Anak lelakiku pun terbangun. Dia menikmati matahari yang sudah bersinar terang. Kami pun beranjak menuju tempat foto yang cukup strategis, sesuai dengan instruksi suami. Ratu memang harus dibukakan jalan menuju tempat selfie yang keren hehehe. Menjauhi kerumunan, kami menuju sisi kanan tribun dan mendekati pagar besi pembatas. Tempat ini cenderung sepi karena kebanyakan ingin foto langsung dari tribun ketika matahari terbit. Padahal dengan kekuatan kamera gawai, foto itu kurang bagus karena masih agak gelap dan hanya tampak puncak Bromo dari kejauhan.

Matahari Bromo menjadi pengiring pagi untuk tetap menjalin rasa dengan para kekasih hati. Betapa sebuah perjalanan yang membutuhkan perjuangan, diraih dengan usaha, diiringi dengan bahagia akan melahirkan sebuah romantisme di relung hati. Kami adalah keluarga yang akan selalu berusaha untuk bergandengan tangan di kala bahagia dan kala sedih .… saling memberikan kekuatan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

 

Comments

June 19, 2020 at 10:26

Aku belum kesampaian ke Bromo mbak, padahal ingin sekali menikmati keindahannya…ada khawatir juga perasaan takut nggak bisa dan nggak kuat jalan kaki nya…baguus yaa…



    Wida Ariesi
    June 30, 2020 at 07:20

    bagus kkDedew.. Masyaallah. klo mau naik Tangga ke kawah, emang capek.. fisik disiapkan dulu. lelahnya akan terbayar lunas dengan keindahannya.



Leave a Reply

Pillow Talk Pernikahan

November 12, 2019