Family / Parenting

Ketika Anak Bicara Cinta

“Mami, pacaran itu apa sih? Kata teman-teman, Teo pacaran ama Cica.”

“Caca suka ama aku, Ma. Terus Caca mau pacaran ama aku.”

Pernahkah sebagai orang tua mendengarkan pertanyaan atau pernyataan sejenis, tentang pacaran, rasa suka dan cinta? Bersyukurlah! Artinya anak tersebut normal, punya rasa ingin tahu dan memiliki kedekatan dengan orang tua. Ia ingin mendapatkan jawaban yang tepat dari orang tua sebagai sosok yang dianggapnya dekat / memiliki attachment.

Lalu bagaimanakah reaksi yang sebaiknya ditampilkan orang tua setelah mendengar pertanyaan tersebut?

  1. Tetap tenang. Big No for mengerutkan wajah atau mengeluarkan ‘tanduk”. Usahakan untuk santai dengan ekspresi wajah biasa, senyum sedikit melebar meski dalam hati dag dig dug, gunakan tehnik pernafasan inhale dan exhale supaya bisa lebih tenang. Ekspresi wajah sangat berperan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar karena itulah hal pertama yang tampak oleh anak. Ketika anak menangkap ekspresi kita yang panik atau tidak suka, maka dia akan memiliki persepsi sendiri bahwa pertanyaannya kurang tepat. Ketika suatu saat dia memiliki pertanyaan lain atau pertanyaan serupa, anak akan merasa takut karena pengalaman sebelumnya yang kurang mengenakkan.
  2. Berusaha melakukan pendekatan untuk mengetahui sampai sejauh mana anak memiliki knowledge tentang pertanyaannya. Hal ini berfungsi untuk memberikan batasan pada jawaban yang akan kita berikan kepada anak. Dalam hal ini kita mencoba untuk menyamakan persepsi pengetahuan dengan yang sudah didapat anak. Hal itu juga untuk menghindari Siapa tau anak belum tahu terlalu jauh, tetapi justru dari penjelasan orang tua yang sudah kemana-mana, anak mendapatkan insight baru. Misalnya, “Kakak tahu darimana tentang istilah pacaran? Atau “Apa yang kakak ketahui tentang pacaran?” Setelah anak menjelaskan apa yang ia ketahui tentang pacaran, berikan jawaban tentang pacaran. Misalnya, pacaran itu berteman dekat, berteman dengan baik, best friend antara laki-laki dan perempuan. Sebagai best friend, kita saling menyayangi, saling membantu, main bersama dan tidak menyakiti.
  3. Inilah kesempatan orang tua untuk memasukkan konsep kepada anak tentang rasa suka, rasa sayang dan perilakunya. Justru inilah kesempatan untuk menanyakan tentang perasaan anak terhadap temannya. “Kalau Kakak sendiri, ada nggak yang disukai di sekolah?” tekankan kepada anak, bahwa memiliki rasa suka terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar, bukan hal yang memalukan. Misalnya, “Kakak suka ama Rosa? Waah Rosa itu baik ya Kak? Nggak papa Kakak suka Rosa sebagai best friend, main yang baik dan nggak menyakiti yah.”

Terkadang orang tua terlalu panik ketika mendengarkan pertanyaan-pertanyaan anak mengenai rasa suka, sayang dan cinta. Padahal pertanyaan tersebut adalah jembatan yang membuka komunikasi antara anak dan orang tua. Rasa suka tidak mengenal usia, bisa dialami oleh anak usia dini. Disinilah tugas orang tua untuk memberikan pemahaman yang benar tentang arti sebuah rasa sayang. Justru reaksi yang berlebihan dari orang tua bisa membuat trauma anak.

 

 

 

 

pict taken from Pinterest 

 

Pengalamanku sebagai ibu dari remaja putri (13 tahun) dan anak laki-laki (6 tahun), obrolan tentang rasa suka / sayang terhadap lawan jenis dimulai dengan usia yang berbeda. Untuk anak perempuanku, obrolan tentang rasa suka ini dimulai dari usia awal baligh/puber. Sekitar kelas 4 SD. Kebetulan anak wedok termasuk introvert untuk membicarakan masalah hati. Aku yang harus lebih agresif dalam menyampaikan konsep perasaan terhadap lawan jenis. Kalau anak lanang sejak usia lima tahun sudah menanyakan masalah pacaran. Dia termasuk ekstrovert, dengan mudah mengatakan atau menanyakan hal yang berkaitang dengan hati. Anak usia SD, membutuhkan contoh kronkret tentang rasa cinta. Biasanya aku memberikan contoh rasa cinta anak-orang tua, cinta bapak-ibu.

Salah satu tips yang biasa aku gunakan adalah menjadi pendengar setia. Apalagi untuk anak remaja, menjadi pendengar setia seperti memiliki sahabat untuk berbagi cerita. Aku berusaha mendengarkan segala cerita anak-anak apalagi yang berkaitan dengan rasa cinta. Meminimalkan komentar-komentar judgmental seperti : jangan suka dia, buat apa jatuh cinta, udah belajar aja nggak usah cinta-cintaan. Sebagai pendengar setia, aku berusaha lebih menggali lebih dalam tentang esensi rasa yang sedang dialami, seperti Apa yang kamu rasakan ketika bertemu dengannya? Jantung berdebar lebih cepat ya Kak? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku akan mendapatkan gambaran yang lebih tentang rasa yang sedang dialami anak.

Aku juga menekankan bahwa konsep tentang suka dan sayang terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar. Laki-laki suka dengan perempuan, begitu pula sebaliknya. Dalam agama Islam, laki-laki dan perempuan (atau sebaliknya) boleh berteman baik, bersahabat. Bukan pacaran tetapi bersahabat. Ada adab-adab yang harus dijaga ketika bergaul dengan lawan jenis. Nah penjelasan lebih lanjut tentang adab pergaulan, biasanya aku terangkan sesuai dengan usia anak. Hal ini sangat penting apalagi ketika anak beranjak remaja.

Rasa cinta dan sayang tidak mengenal usia. Jadi, jangan takut ketika anak mulai jatuh cinta dan mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Justru inilah saat tepat bagi  orang tua untuk memberikan pemahaman kepada anak agar tidak salah dalam masalah cinta.

 

-Teruslah mengalirkan rasa cinta kepada anak dengan menyatakan cinta secara nyata. Tidak perlu malu untuk mengatakan, “I love you,Nak.” Cinta positif dari orang tua akan memberikan energi positif untuk anak-

Leave a Reply

Puyer untuk Obat Hati

March 2, 2018