Family

Cerdas Finansial ala Ibu Rumah Tangga

Siapa yang sering kehabisan amunisi keuangan sebelum waktunya atau merasa uang hanya lewat kantong saja tanpa sisa??? Acungkan jari sendiri…. saya dong. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja sehingga secara otomatis pendapatan keluarga hanya berasal dari suami yang setiap hari membanting tenaga memeras keringat. Beberapa referensi keuangan keluarga mengatakan bahwa perencanaan keuangan adalah hal penting. Dan yang lebih penting adalah disiplin menjalankan perencanaan tersebut.

Ada beberapa tipe pengaturan keuangan dalam sebuah keluarga. Keuangan terpusat pada satu orang yaitu semua pengaturan dan pengeluaran uang dikelola oleh satu orang (suami atau istri). Keuangan terbagi dua, yaitu suami istri mengelola masing-masing bagian sesuai dengan porsi yang sudah disepakati bersama. Sebenarnya terserah pada kita untuk memilih tipe mana yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Asalkan dalam menjalankannya terdapat kenyamanan dan dapat mencapai tujuan keuangan keluarga. Saya termasuk dalam kategori yang kedua. Ada pembagian keuangan yang harus kami jalankan agar stabilitas keluarga tetap terjaga. Kenapa kami memilih opsi kedua? Karena tentu saja uang yang masuk ke kantong saya tidak akan pernah keluar lagi untuk kantong suami, jadi opsi kedua lebih aman untuk suami.

Pembagian keuangan antara saya dan suami, membuat saya lebih cerdas dalam mengatur keuangan. Saya berusaha untuk mencari cara agar bagian yang saya terima tidak selalu numpang lewat begitu saja, tetapi juga bisa menghasilkan sesuatu di kemudian hari.  Menurut referensi di radio yang saya dengar sambil lalu, kita harus menentukan tujuan. Bagaimana dengan keuangan yang ada, saya bisa mencapai tujuan akhir yang membahagiakan. Tentu saja tujuan tiap orang akan berbeda. Tujuan akhir saya sederhana, tiap bulan ada uang tersisa dalam arti tidak defisit anggaran. Tapi dibalik tujuan sederhana tersebut, ada tujuan lain yaitu investasi. Agar tujuan tercapai, saya harus lebih cerdas mengatur keuangan. Meski selama ini saya sudah membuat perencanaan tetapi masih ada hal yang harus diperbaiki. Saat ini saya sedang menjalankan program ibu cerdas finansial seperti :

  1. Mengenali Kebutuhan keluarga. Sebagai seorang ibu tugas kita adalah mengamati dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga. Pengamatan dan pengenalan kebutuhan keluarga ini berhubungan dengan alokasi dana yang dikeluarkan setiap bulan. Kebutuhan dan keinginan adalah hal yang berbeda meski terkadang tipis batasannya. Tugas ibu adalah mengenal betul akan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Misal, dalam hal makanan. Saya berusaha untuk mengenali kebutuhan anak-anak dengan menyediakan makanan bergizi yang mereka butuhkan. Ada kalanya anak memiliki keinginan untuk membeli makanan tertentu yang kurang bergizi seperti snack ringan yang mengandung banyak MSG. Tugas saya adalah mengendalikan keinginan yang muncul tetapi tidak dibutuhkan. Secara perlahan saya memperkenalkan antara kebutuhan dan keinginan kepada anak-anak. Cara lain untuk mengenali kebutuhan keluarga adalah mereview bon-bon pengeluaran bulan-bulan sebelumnya. Padatkan pengeluaran yang dirasa kurang penting dan hanya berupa keinginan tetapi bukan kebutuhan.
  2. Bijak membagi keuangan berdasarkan kebutuhan. Membuat pos-pos berdasarkan skala kebutuhan kepentingan. Pos keuangan terbagi atas pos induk dan pos tambahan. Pos induk adalah uang sekolah, kebutuhan sehari-hari rumah tangga seperti listrik, bensin, uang makan sehari-hari, sarana kebersihan seperti sabun, pasta gigi, air, bayaran kebersihan lingkungan. Pos tambahan seperti jajanan di luar makan utama, dana hiburan atau main di mal, beli baju dll. Tentu saja jenis kebutuhan dan nominal tiap kebutuhan tiap keluarga akan berbeda-beda. Disinilah peran seorang ibu sangat dibutuhkan.
  3. Utamakan dana sedekah. Seringkali kita mengutamakan kebutuhan keluarga yang begitu mendesak dan meletakkan uang sedekah pada list terakhir atau list sisa. Bagaimana jika sampai pada akhir bulan tidak ada dana tersisa? Otomatis tidak ada dana sedekah. Padahal dengan banyak bersedekah, Inshaa Allah rejeki kita akan lebih banyak. Usahakan untuk mendahulukan sedekah, meski jumlahnya tidak seberapa. Asalkan kita lakukan dengan ikhlas dan kontinyu, lambat laun kita akan merasakan manfaatnya.
  4. Sisa dari pos-pos kebutuhan itulah yang bisa kita gunakan untuk membantu keuangan keluarga. Bagaimana caranya? Investasi. Salah satu cara investasi yang paling mudah adalah arisan. Tanpa disadari dengan ikut arisan, kita sudah menabung. Ikutlah arisan yang jelas dan tanpa bunga bandar. Jumlahnya tidak perlu terlalu besar. Sesuaikan dengan kondisi keuangan. Hasil uang arisan bisa dipergunakan untuk investasi seperti membeli logam mulia.
  5. Apresiasi uang koin. Adanya berbagai nominal uang kertas saat ini, seringkali membuat kehadiran uang koin sering terabaikan. Uang kembalian belanja yang berupa uang koin seperti 100, 200, 500 atau 1000 rupiah seringkali kita anggap remeh dan ditinggalkan begitu saja. Cobalah untuk menyediakan tempat koin tersendiri. Pisahkan nominal tiap koin. Setiap kali menerima uang koin, masukkan ke tempat tersebut berdasarkan nominalnya. Tanpa disadari, kita pun sudah menabung. Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit koin yang bermanfaat.

Pict taken from Pinterest.

Sejujurnya, saya masih berantakan dalam menjalankan cara-cara diatas. Tetapi berita baiknya ketika budget mulai ‘kering” saya masih bisa pasang muka memelas minta dana tambahan dari suami. Paling tidak saya berusaha untuk lebih cerdas mengatur keuangan keluarga dengan harapan nggak perlu pasang muka memelas lagi untuk tambal sulam budget yang ada. Satu lagi tips yang nggak kalah penting, yaitu bersyukur. Berapa pun rejeki yang kita terima, bersyukurlah karena nikmat Allah tidak terhitung banyaknya.

Leave a Reply