Parenting / Writing

Membangun Karakter melalui Cerita Anak

Perkembangan jaman membuat orang tua lebih kritis dalam mencari aktivitas untuk buah hati. Mesin pencari informasi seperti google seringkali dijadikan sarana untuk bertanya. Media melalui dunia maya lebih banyak berperan saat ini. Seringkali orang tua lupa bahwa salah satu aktivitas yang bermanfaat adalah bercerita. Aktivitas membacakan sebuah cerita merupakan salah satu kegiatan menarik karena dapat membangun waktu berkulitas antara orang tua dan anak.

Menarik perhatian anak terhadap cerita yang kita bacakan bukanlah hal yang mudah. Jenis cerita, gambar sampul dan isi cerita sangat berpengaruh untuk menarik minat anak mendengarkan cerita. Cerita anak yang beredar dapat dibagi menjadi dongeng, fabel, cerita rakyat, legenda, mitos, hikayat dan cerita teladan para nabi dan rasul. Di era 1990-an kisah yang biasa diceritakan seputar dongeng Timun Mas dan fabel Si Kancil. Tak ada yang salah dengan Timun Mas dan Si Kancil. Bahkan di balik kisah mereka, ada hikmah yang bisa dipetik.

Beberapa Dampak positif membacakan cerita kepada anak adalah :

  • Mempererat hubungan orangtua dan anak. Orang tua akan meluangkan waktunya agar anak mendengarkan cerita.
  • Menambah kosa kata anak. Dengan mendengarkan cerita, anak akan mendapatkan tambahan kosakata yang belum pernah di dengar.
  • Merangsang kemampuan berbicara. Bertambahnya kosa kata membuat anak ingin lebih banyak berbicara.
  • Membantu anak mengenal nilai positif. Melalui cerita, orangtua dapat mengenalkan nilai-nilai positif yang ada seperti rajin, kebersihan, berani dan lain-lain.
  • Membuat anak menyukai buku. Setelah satu buku selesai dibacakan, anak akan makin penasaran dengan buku-buku yang lain. Inilah kesempatan emas untuk membuat anak dekat dengan buku.

Anak yang tumbuh di jaman sekarang, lebih kritis dan sudah memiliki selera tentang buku yang akan dibaca. Maraknya iklan dan acara-acara televisi untuk anak, membuat mereka lebih sadar akan dunia luar. Tokoh-tokoh Disney pun menjadi idola. Cerita klasik seperti Cinderella dan impian untuk mendapatkan kebahagian seolah tertanam jelas di benak anak. Kisah ibu tiri yang jahat terhadap Cinderella juga akan melekat dalam benak anak. Padahal belum tentu semua ibu tiri bersifat jahat. Namun, karakter jahat seorang ibu tiri akan terus tertanam dan akan menimbulkan karakter negatif terhadap seorang ibu tiri.

Melalui cerita, karakter anak dapat diubah dan dikembangkan. Orang tua dapat menceritakan tentang keluarga sayur untuk anak yang tidak suka makan sayur. Kisah tentang para nabi yang berisikan sifat dan perilaku teladan juga dapat merangsang pembentukan karakter anak. Sifat jujur, berani membela kebenaran, sabar, menuruti perintah Allah adalah beberapa sifat yang layak dikisahkan kepada anak.

Membacakan sebuah cerita anak bukan tidak hanya sekedar membaca. Orang tua harus memiliki tehnik tersendiri untuk membuat anak tertarik. Alat peraga terkadang dibutuhkan untuk menarik minat anak. Intonasi suara dalam bercerita pun ikut ambil bagian. Dan yang terpenting adalah ekspresi. Orang tua sebaiknya belajar bagaimana berekspresi sesuai dengan cerita yang akan dibaca. Tidak akan seru jika cerita tentang membela kebenaran yang penuh dengan semangat tetapi ekspresi orang tua lelah dengan mata tidak bersinar. Karena dari ekspresi bercerita pun, anak akan belajar membangun karakter.

Di akhir cerita, bubuhkan pesan moral yang ingin disampaikan. Usahakan untuk tidak berkesan menggurui. Gunakan kalimat yang bisa memancing diskusi terhadap pesan moral yang disampaikan. Coba tanyakan lagi kepada anak, apa isi cerita dan pesan moral yang ia tangkap dari cerita tersebut. Selamat bercerita bersama buah hati.

Leave a Reply